Kampoeng Dolanan Surabaya, Menghidupkan Kembali Permainan Tradisional Anak-Anak
- 29 Jun 2024 21:48 WIB
- Surabaya
KBRN Surabaya; Saat ini kita sering melihat anak-anak gemar bermain ponsel. Beberapa anak bahkan sampai kecanduan dan tidak bisa lepas dari gawai. Padahal, banyak penelitian yang menunjukkan dampak buruk jika berlebihan bermain ponsel. Anak-anak bukan hanya kecanduan, tetapi juga berdampak buruk pada aspek fisik, sosiologi, psikologinya.
Fakta itu menjadi salah satu keprihatinan komunitas Kampoeng Dolanan di Surabaya. Komunitas ini mencoba memperkenalkan dan mengakrabkan lagi berbagai permainan tradisional kepada masyarakat.
Komunitas Kampoeng Dolanan tercetus pada 13 Desember 2016 di Surabaya. Diinisiasi oleh kepengurusan karang taruna di Kampung Kenjeran IV-C, Simokerto, Surabaya.
Pada 2017, ada lebih dari 100 orang yang mendaftar sebagai sukarelawan Kampoeng Dolanan. Kini, Kampoeng Dolanan bukan hanya dikenal oleh masyarakat Surabaya, tetapi juga terkenal di berbagai daerah, bahkan sampai ke luar negeri.
Mustofa Sam, salah satu penggagas Kampoeng Dolanan mengatakan komunitas itu ingin membangun interaksi dan komunikasi dengan cara kekeluargaan melalui permainan tradisional yang dipadu dengan tembang dolanan.
"Permainan tradisional memiliki banyak filosofi, salah satunya permainan dakon. Permainan tersebut menyelaraskan antara tiga hubungan sekaligus, yakni hubungan manusia dengan manusia, manusia dengan Tuhan dan juga manusia dengan alam," kata Mustofa saat ditemui secara langsung di lokasi studio Podcast RRI Fest yang diselenggarakan di Tugu Pahlawan Surabaya, bersama host Dini Wardani,Sabtu (29/06/2024).
Pria yang biasa disapa Cak Mus itu menjelaskan bahwa Kampoeng Dolanan hadir dengan menyelaraskan konsep pendidikan Ki Hajar Dewantara. Konsep tersebut mengarah pada upaya saling menolong dan gotong royong. Dalam kehidupan modern, semangat itu yang mulai pudar.
"Nah, permainan tradisional bisa meningkatkan empati dan simpati untuk bisa menghidupkan kembali gotong royong dan nilai moral yang ada di masyarakat," katanya.
Lahirnya ide mengenai Kampung Dolanan, lanjut Cak Mus, adalah upaya untuk kembali memupuk budaya bangsa dalam membangkitkan proses interaksi secara langsung antara anak dan teman-temannya, maupun anak dan orang tuanya.
Menurut Cak Mus, permainan tradisional merupakan ajang untuk membangun proses komunikasi yang baik antarmasyarakat. Interaksi langsung yang terjalin saat bermain akan berdampak positif bagi tumbuh kembang anak-anak.
Saat anak-anak bermain atau berkomunikasi melalui gawai, tidak ada orang yang menegur jika terjadi kesalahan komunikasi. Anak-anak juga akan sulit mendapatkan pelajaran tentang tata krama saat berinteraksi melalui ponsel.
"Artinya, permainan tradisional bisa menjadi pilihan yang ampuh untuk menumbuhkan nilai-nilai moral kemasyarakatan, salah satunya terhadap kegiatan komunikasi," ujar dia.
.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....