Tradisi Unik Misa Malam Jumat Legi Umat Katolik
- 29 Jun 2024 05:54 WIB
- Surabaya
KBRN, Surabaya : Setiap malam Jumat Legi, Gereja dan Gua Maria Puh Sarang di Kediri, Jawa Timur, menjadi pusat perhatian umat Katolik dari seluruh Indonesia. Tradisi Misa Malam Jumat Legi ini telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan rohani mereka, menawarkan pengalaman spiritual yang unik dan bermakna.
Sama halnya yang terjadi pada Malam Jumat Legi (28/06) Tepat pukul 00.00 WIB, Misa Malam Jumat Legi dimulai, dipimpin oleh Romo dari Gereja Katolik setempat. Ribuan umat Katolik memadati gereja dan gua, datang dari berbagai kota di Indonesia untuk mengikuti ritual yang penuh makna ini.
Salah satu hal yang menjadikan Misa Malam Jumat Legi begitu unik adalah kesempatan bagi umat untuk membakar "ujut" atau permohonan mereka dalam sebuah tungku yang telah disediakan. Ujut ini dapat berupa tulisan apa saja, mulai dari doa untuk kesembuhan, keberhasilan usaha, hingga permohonan agar hutang-hutang segera lunas.
Debby, seorang umat Katolik dari Rungkut Surabaya, mengungkapkan bahwa ia selalu datang ke Misa Malam Jumat Legi karena banyak permohonannya yang dikabulkan Tuhan.
"Saya sudah bertahun-tahun mengikuti tradisi ini, dan saya merasakan banyak berkat yang Tuhan berikan," ujarnya dengan antusias.
Selain membakar ujut, umat Katolik juga memiliki kesempatan untuk menyampaikan intensi mereka kepada Romo. Intensi-intensi ini pun tergolong unik, mulai dari doa untuk kesembuhan dari penyakit, hingga permohonan agar keluarga yang hilang dapat segera ditemukan.
Romo yang memimpin Misa Malam Jumat Legi dengan penuh khidmat, membacakan setiap intensi yang disampaikan oleh umat dengan tulus dan penuh kasih. Suasana hening dan khusyuk menyelimuti gereja, seolah-olah setiap doa dan permohonan itu didengar langsung oleh Sang Pencipta.
Tradisi Misa Malam Jumat Legi ini tidak hanya menjadi momen spiritual bagi umat Katolik, tetapi juga menjadi wadah untuk mempererat tali persaudaraan. Umat yang datang dari berbagai daerah saling bertukar cerita, berbagi pengalaman, dan saling mendoakan satu sama lain.
"Selain untuk berdoa, saya juga selalu menikmati kesempatan bertemu dengan saudara-saudara Katolik dari berbagai tempat. Kami saling berbagi cerita, saling menguatkan, dan merasa menjadi bagian dari keluarga besar Gereja Katolik." tambah Debby.
Selain Misa Malam Jumat Legi, Gua Maria Puh Sarang juga menjadi tempat bagi umat Katolik untuk melakukan doa dan refleksi. Gua ini dipercaya sebagai tempat yang sakral, di mana Bunda Maria diyakini hadir untuk mendampingi umat yang datang.
Pada malam Jumat Legi, gua ini dipenuhi dengan lilin-lilin yang menyala, menciptakan suasana yang sangat khidmat dan penuh ketenangan. Umat Katolik berlutut, berdoa, dan merenungkan makna iman mereka di hadapan sosok Bunda Maria yang seolah-olah hadir di sana.
Tradisi ini telah menjadi warisan budaya yang dilestarikan dari generasi ke generasi, menjadi saksi bisu betapa kuatnya iman dan spiritualitas umat Katolik di Indonesia. Setiap malam Jumat Legi, Gereja dan Gua Maria Puh Sarang menjadi saksi bisu akan kesungguhan dan ketulusan hati umat Katolik dalam menjalankan praktik keagamaan mereka. Setiap tahun, ribuan umat datang, membawa harapan, doa, dan permohonan mereka, berharap agar Tuhan dan Bunda Maria mendengar dan mengabulkan apa yang mereka panjatkan.
Tradisi ini tidak hanya memperkuat iman umat Katolik, tetapi juga menjadi wadah untuk mempererat tali persaudaraan di antara mereka. Misa Malam Jumat Legi telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan rohani umat Katolik di Indonesia, menjadi saksi bisu akan ketulusan dan kekhusyukan mereka dalam menjalankan praktik keagamaan.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....