Burung Cabak Punya Mitos di Jawa dan Sumba
- 01 Mei 2024 14:08 WIB
- Takengon
KBRN, Takengon: Burung pemakan serangga nokturnal dari famili Caprimulgidae bernama Burung Camak (Caprimulgusaffinis) yang berukuran 21 cm dengan warna bulu dominan cokelat lurik mirip dengan tanah kering atau serasah dedaunan sering terdengar menjelang petang atau tengah malam.
Menurut Raafi Nur Ali di laman Biodiversity Warriors, Burung Cabak memiliki persebaran yang luas dari India, Tiongkok Selatan, Asia Tenggara, Sulawesi, Sunda Besar dan Nusa Tenggara dimana berbiaknya pada bulan Maret-Desember di Pulau Jawa.
Uniknya, Burung Cabak memiliki mitos pemaknaan di Pulau Jawa dan Pulau Sumba yang digunakan sebagau sebuah penanda identitas budaya.
Mitos ManukCabak di Desa Ngablak, Pati Jawa Tengah menandakan bahwa ada makhluk halus yang dating bahkan secara spesifik warga menjelaskan bahwa makhluk halus itu adalah sesosok pocong karena suaranya sekilas seperti culi… culi… yang berarti lepaskan… lepaskan.. yang dimaksudkan untuk dilepaskan tali pocongnya.
Mitos Burung Cabak atau dikenal ManjaiWai di Desa Manurara, Praingkareha dan Raja Prailio Pulau Sumba yang diartikan sebagai nenek moyang mereka.
Manjai Wai memiliki karakter fisik kaki pendek sehingga sering disalahartikan sebagai burung yang tidak memiliki kaki tetapi memiliki kemampuan untuk terbang sehingga dianggap sebagai burung sakti.
Adanya mitos penanda peristiwa buruk menjadikan masyarakat lebih mawas diri dalam bertindak terutama setelah mengetahui datangnya burung pembawa tanda tertentu.
Disisi lain sebut Raafi Nur Ali bahwa mitos mengenai burung tertentu menandakan keberadaan dan indikator kondisi alam di sekitar pemukiman warga yang menghasilkan pengetahuan local masyarakat untuk menjaga hutan dan lingkungan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....