Rura Basa, Kesalahan Bahasa Jawa yang Dianggap Biasa
- 08 Jan 2026 21:47 WIB
- Surabaya
KBRN, Surabaya: Dalam upaya melestarikan dan meluruskan penggunaan Bahasa Jawa yang tepat, fenomena rura basa kembali menjadi sorotan. Rura atau rurah berarti rusak, sehingga rura basa dimaknai sebagai penggunaan bahasa yang keliru, tidak tepat, namun telah dianggap lazim atau umum di masyarakat. Fenomena ini kerap muncul dalam percakapan sehari-hari tanpa disadari penuturnya.
Ketua DPW Persatuan Pambiwara Indonesia sekaligus PEPARI Jawa Timur, Rahmad Budi Utomo, menjelaskan bahwa rura basa banyak terjadi karena adanya pengulangan makna dalam satu frasa. Contohnya adalah ungkapan nggodhog wedang yang berarti merebus air panas, padahal kata wedang sendiri sudah bermakna air panas. Ungkapan yang lebih tepat adalah nggodhog banyu atau merebus air.
Contoh lain rura basa antara lain nguleg sambel yang seharusnya nguleg lombok, ndhudhuk sumur yang lebih tepat ndhudhuk lemah, hingga adang sega yang seharusnya adang beras. Kesalahan-kesalahan ini terjadi karena hasil akhir kegiatan disebutkan, bukan bahan awal yang dikerjakan, sehingga secara makna menjadi tidak tepat.
“Bahasa Jawa itu sangat logis dan runtut. Kalau kita memahami makna dasarnya, maka kita akan lebih berhati-hati dalam bertutur,” ujarnya saat menjadi narasumber dalam program Sinau Bahasa Jawa pada Kamis (8/1/2026). Ia menambahkan bahwa pembiasaan menggunakan istilah yang benar merupakan bentuk penghormatan terhadap kekayaan bahasa dan budaya Jawa.
Melalui edukasi berkelanjutan seperti program Sinau Bahasa Jawa, diharapkan masyarakat semakin sadar pentingnya ketepatan berbahasa. Tidak sekadar bisa berbahasa Jawa, namun juga memahami makna dan struktur yang benar, sehingga bahasa daerah tetap terjaga keluhurannya di tengah perubahan zaman.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....