Fintech P2P Lending dan Pegadaian Mendominasi Pembiayaan Sulsel

  • 16 Agt 2025 10:45 WIB
  •  Makassar

KBRN,Makassar: Pertumbuhan sektor pembiayaan di Sulawesi Selatan menunjukkan tren positif pada tahun 2025. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Sulselbar mencatat sektor Pembiayaan, Ventura dan Modal Lain (PVML) masih menjadi penopang penting perekonomian daerah, terutama pada pembiayaan berbasis fintech P2P lending dan perusahaan pergadaian.

Kepala OJK Sulselbar, Moch Muchlasin, dalam kegiatan Journalist Update yang diselenggarakan OJK Sulselbar, Jumat (15/8/2025) menyebutkan bahwa berdasarkan data per Juni 2025, total piutang perusahaan pembiayaan tumbuh 1,37 persen dengan nilai mencapai Rp18,77 triliun. Peningkatan ini menunjukkan permintaan masyarakat terhadap akses pembiayaan terus bergerak naik di berbagai sektor.

Pada rincian data, perusahaan modal ventura mencatat pertumbuhan piutang sebesar 1,15 persen dengan nilai pembiayaan mencapai Rp373 miliar. Di sisi lain, fintech P2P lending menjadi sektor dengan pertumbuhan paling pesat, yaitu sebesar 37,46 persen dengan nilai outstanding pembiayaan mencapai Rp2,04 triliun.

Sementara itu, sektor pergadaian juga mencatat peningkatan yang cukup besar. Per April 2025, total pinjaman yang disalurkan oleh perusahaan pergadaian tumbuh 29,55 persen dengan nilai mencapai Rp8,47 triliun. Kondisi ini memperlihatkan bahwa layanan gadai masih menjadi pilihan utama masyarakat dalam memenuhi kebutuhan pembiayaan cepat.

“Bisa dikatakan untuk tahun ini, pertumbuhan aktivitas pembiayaan di Sulsel terutama di sektor fintech P2P lending dan perusahaan pergadaian terjadi peningkatan,” ujar Muchlasin. Menurutnya, peran kedua sektor ini sangat penting dalam memberikan alternatif pembiayaan bagi masyarakat.

Selain itu, OJK Sulselbar juga mencatat perkembangan positif pada sektor Perasuransian, Penjaminan, dan Dana Pensiun (PPDP). Hingga Juni 2025, total aset dana pensiun tumbuh 5,80 persen dengan nilai Rp1,68 triliun, sedangkan total penjaminan pada perusahaan penjaminan meningkat 26,36 persen menjadi Rp884 miliar.

Namun, tantangan masih terlihat di sektor asuransi. Data menunjukkan adanya kontraksi pada total premi perusahaan perasuransian sebesar -8,76 persen. Kondisi ini menunjukkan perlunya strategi lebih adaptif dari industri asuransi dalam menjangkau masyarakat dan memperluas basis nasabah.(RRI/Qyswanti Ruslia)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....