Untag Surabaya Gaungkan Semangat Bung Karno Fatmawati

  • 25 Jun 2025 11:10 WIB
  •  Surabaya

KBRN, Surabaya: Semangat perjuangan Bung Karno dan Ibu Fatmawati, digaungkan Universitas 17 Agustus 1945 (UNTAG), Surabaya, lewat lomba reka peristiwa dan peragaan busana bertema napak tilas, Selasa (24/6/2025). Kegiatan ini menjadi bagian dari peringatan Bulan Bung Karno yang dikemas kreatif dan menggugah nasionalisme generasi muda.

“Bung Karno bukan sekadar proklamator, tapi juga api perjuangan yang hidup dalam cinta,” ujar Rektor UNTAG Surabaya, Prof. Dr. Mulyanto Nugroho, dalam pembukaan acara Napak Tilas Soekarno–Fatmawati, Selasa (24/6/2025).

Bertempat di Selasar Graha Prof. Dr. Roeslan Abdulgani, kegiatan ini digelar Yayasan Perguruan 17 Agustus 1945 (YPTA) Surabaya dalam rangka Bulan Bung Karno. Semangat nasionalisme dibalut teatrikal cinta dan perjuangan.

Sebanyak 26 unit kerja dari UNTAG menampilkan kisah heroik dalam bentuk teatrikal lima menit. Sketsa ini mengangkat sisi manusiawi Bung Karno dan Fatmawati sebagai pasangan yang saling menguatkan di tengah badai revolusi.

Lakon yang memukau hadir dari Biro Non Akademik dengan “Fatmawati Penjahit Bendera Merah Putih”, serta Fakultas Vokasi lewat “Cinta dan Kemerdekaan: Kisah Bung Karno dan Fatmawati”. Sorak penonton menandai penghayatan mendalam dari peserta.

Tiga juri profesional menilai penampilan dengan ketat: Yasinta Aurellia (Puteri Indonesia Lingkungan 2023), Dr. Bawinda Lestari (praktisi komunikasi), dan Dr. Ayun Maduwinarti (Dekan FISIP UNTAG). Penilaian mencakup akting, pesan, dan orisinalitas.

Juara pertama diraih LSP P-1. SMPTAG menyusul sebagai Juara 2, dan FISIP UNTAG di posisi ketiga. Sementara Juara Favorit dipilih melalui voting TikTok, mencerminkan semangat digital anak muda masa kini.

Tak hanya lomba, acara juga diisi pembacaan puisi “Sang Singa Podium” oleh Adinda Azzah Ramadani, pemenang lomba puisi bertema Bung Karno. UKM Musik UNTAG turut mengiringi suasana dengan lantunan penuh semangat.

Ketua Pembina YPTA Bambang D.H. menegaskan pentingnya menanamkan sejarah bukan lewat ceramah semata, tapi lewat seni. “Inilah cara kami membuat sejarah kembali bernyawa,” ucapnya. Salah satu peserta, Donny Maulana, mengaku timnya hanya berlatih dua hari. Namun, yang utama adalah penghayatan. “Kami ingin penonton benar-benar merasakan nyawa perjuangan Bung Karno,” katanya.

Rektor UNTAG juga menyinggung kemajuan kampus yang kian kompetitif di tingkat nasional. “Prestasi itu penting, tapi semangat perjuangan harus menjadi akar,” ucapnya.

Acara ini bukan sekadar seremoni tahunan, tapi refleksi bahwa cinta tanah air bisa hadir lewat teater, puisi, dan musik. Sebuah pendekatan segar dalam membumikan nasionalisme di kampus.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....