Sirah Nabi: Persaudaraan Muhajirin dan Anshar

  • 11 Jun 2025 06:34 WIB
  •  Surabaya

KBRN, Surabaya: Program Cahaya Pagi, Pro 4 RRI Surabaya, bersama narasumber Ustaz Achmad Faiz, Penyuluh Agama Islam Kecamatan Tandes, membahas topik Sirah Nabi: Persaudaraan Muhajirin dan Anshar. Secara umum islam menyatakan kaum muslim adalah bersaudara sebagaimana dalam Alquran surat Alhujarat ayat 10 : “Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara, karena itu damaikanlah kedua saudaramu (yang bertikai) dan bertakwalah kepada Allah agar kamu dirahmati.”

“Fokus pembicaraan kali ini adalah fokus untuk membahas kaum Muhajirin dan kaum Anshar. Kaum Muhajirin adalah para sahabat Nabi Muhammad yang hijrah dari Mekkah ke Madinah, sedangkan Kaum Anshar adalah kaum Muslimin yang tinggal di Madinah yang memberikan bantuan, perlindungan, dan tempat tinggal bagi Muhajirin. Mereka adalah contoh nyata persaudaraan dan kerjasama dalam Islam,'' katanya.

Sebagaimana diketahui saat Muhajirin hijrah ke Madinah tidak membawa seluruh harta. Sebagian besar harta mereka di tinggal di Makkah. Apalagi keahlian mayoritas Muhajirin adalah pedagang. Kaum Anshar yang menempati Madinah dengan daerahnya yang subur, saat melihat kondisi kaum muhajirin dengan landasan kekuatan persaudaraan maka kaum Anshor tidak membiarkan saudaranya dalam kesusahan dengan sepenuh hati yang mana di abadikan dalam Al Quran surat Al.hasyr ayat 9 :

Bagaimanapun pengorbanan dan keikhlasan kaum Anshor harus tetap memberikan solusi agar muhajirin tidak sebagai benalu. Kaum Muhajirin tidak membawa hartanya ke madinah, begitu juga tidak membawa keluarga. Kaum anshar memberi bantuan tanpa melihat siapa orang yang datang. Ketulusan kaum anshar itu diabadikan

Yang tertuang pada surat An-Anfal mengajarkan bahwa persahabatan yang kuat dan persatuan di antara orang-orang beriman adalah kunci keberhasilan dalam perjuangan dakwah dan menghadapi tantangan. Sikap Kaum Anshar menjadi contoh bahwa mereka menolong tanpa meminta imbalan. Keikhlasan mereka yang menjadi tolak ukur bagi kita.

Saat itu Madinah sangat subur, sedangkan Mekkah itu gersang. Mekka mayoritas profesinya berdagang dan Madinah saat itu subur. Ada permasalahan baru bagi kaum Muhajirin, baik ekonomi, kesejahteraan dan kesehatan. Mereka harus segera beradaptasi agar mendapat kehidupan baru. Padahal mereka tidak membawa modal. Kaum Anshar tidak membiarkan saudaranya keseusahan. Sepenuh hati membantu untuk mengentaskan kesusahan.

Dalam Surah Al Hasr ayat 9 : “Orang-orang (Ansar) yang telah menempati kota (Madinah) dan beriman sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin) mencintai orang yang berhijrah ke (tempat) mereka. Mereka tidak mendapatkan keinginan di dalam hatinya terhadap apa yang diberikan (kepada Muhajirin). Mereka mengutamakan (Muhajirin) daripada dirinya sendiri meskipun mempunyai keperluan yang mendesak. Siapa yang dijaga dirinya dari kekikiran itulah orang-orang yang beruntung.”

Saat Kaum Muhajirin hijrah ke Madinah tidak membawa hartanya. Dan di Madinah kaum Muhajirin memanfaatkan keahliannya ketika di Mekkah dan berdagang di Madinah. Setelah berdagang di Madinah Allah mengembalikan harta kaum Muhajirin bisa memenuhi kebutuhannya sendiri.

Dari contoh itu persaudaran terjalin dan kaum Muhajirin betah dan tidak asing lagi. Akhirnya mereka tahu bagaimana mencari nafkah. Sehingga perkembanagan Islam di Madinah sangat pesat karena persaudaraan Muhajirin dan Anshar.

Ketika kaum Anshar membantu kaum Muhajirin akhirnya Rasulullah membuat sebuah kongsi dan mengikat antara kaum Muhajirin dan Anshar untuk menjadi saudara. Banyak yang menikahkan anak kaum Muhajirin dengan anak kaum Anshar. Dan bagi yang tidak menikah, kaum Anshar rela membagikan hartanya dengan kaum Muhajirin dibagi dua agar mereka terjalin persaudaraan satu sama lain.

Seperti yang tertuang pada An anfal ayat 75 : “Orang-orang yang beriman setelah itu, berhijrah, dan berjihad bersamamu, maka mereka itu termasuk (golongan) kamu. Orang-orang yang mempunyai hubungan kerabat itu sebagiannya lebih berhak bagi sebagian yang lain menurut Kitab Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.”

“Dari apa yang kita bahas bahwa pada dasarbya Islam adalah saudara dengan sesama muslim. Jadi perintah itu datang dari Allah. Saat ini yang relevan adalah ketika ada saudara muslim yang bertengkar, wajib kita untuk mendamaikan. Karena kita bersaudara. Saudara kita adalah kaum muslimin,” kata Ustadz Faiz.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....