Sejarah Lagu Lebaran yang Sarat Makna
- 01 Apr 2025 07:09 WIB
- Surabaya
KBRN, Surabaya: Merayakan hari kemenangan, sering kali kita dengar Lagu bertema Idulfitri yang paling populer dan familiar yaitu "Hari Lebaran" karya maestro Ismail Marzuki, nyaris tak pernah absen saat Lebaran tiba. Begitu populernya, lagu ini bahkan diaransemen ulang oleh banyak seniman.
Lagu orisinal ini direkam di studio RRI Jakarta tahun 1954 dan dinyanyikan pertama kali oleh Didi, nama samaran dari Suyoso Karsono. Tapi tahukah anda, bahwa lagu tersebut memiliki makna mendalam?
Lagu Hari Lebaran karya Ismail Marzuki yang diciptakan pada awal 1950-an telah menjadi bagian tak terpisahkan dari perayaan Idul Fitri di Indonesia melalui Irama yang ceria lagu ini tidak hanya menggambarkan sukacita menyambut hari kemenangan tetapi juga menyisipkan kritik sosial terhadap perilaku masyarakat dan kondisi pemerintahan pada masa itu.
Ismail Marzuki seorang komponis legendaris Indonesia pertama kali memperkenalkan lagu ini melalui siaran Radio Republik Indonesia RRI, menurut peneliti Musik Michael Haryo bagus Raditya lagu ini memadukan unsur Jazz dan Melayu menciptakan nuansa yang unik dan menarik bagi pendengarnya.
Salah satu aspek menonjol dari lagu hari lebaran adalah sindiran tajam terhadap perilaku konsumtif dan korupsi yang terjadi di masyarakat. Lirik seperti Lan tahun hidup prihatin, kondangan boleh kurangin korupsi jangan kerjain", mencerminkan kritik Ismail terhadap praktek korupsi yang sudah merajalela pada masa pada masa itu.
Dikutip dari historia.id, Ninok Leksono dalam bukunya "Ismail Marzuki: Senandung melintas zaman" menyoroti Obsesi Ismail terhadap pemberantasan korupsi yang dianggap sebagai praktek jahat yang harus dibasmi.
Selain itu, lagu ini juga menggambarkan kesenjangan sosial antara masyarakat desa dan kota dalam merayakan Idulfitri. Masyarakat desa digambarkan berbondong-bondong ke kota dengan pakaian baru, sementara masyarakat kota memanfaatkan momen lebaran untuk berjudi dan mabuk-mabukan.
Gambaran ini memberikan pandangan tentang perbedaan budaya dan perilaku antara kedua kelompok masyarakat tersebut. Menariknya beberapa bait yang mengandung kritik sosial dalam lagu ini sempat dihilangkan dalam beberapa versi aransemen ulang terutama pada masa orde baru.
Setelah reformasi lirik asli yang menyentuh isu korupsi kembali dinyanyikan secara lengkap, mengingatkan kita akan relevansi pesan moral yang disampaikan Ismail Marzuki. Hingga saat ini, lagu Hari Lebaran tidak hanya menjadi simbol kegemaran menyambut Idulfitri tetapi juga sebagai pengingat akan pentingnya hidup sederhana menjauhi perilaku konsumtif berlebihan dan menolak segala bentuk korupsi.
Karya Ismail masuk ini tetap abadi dan terus memberikan pesan moral yang relevan bagi masyarakat Indonesia.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....