Kemarau Panjang di Bula, Warga Diimbau Waspada Karhutla
- 24 Jul 2026 15:15 WIB
- Bula
RRI. CO. ID, Bula-Warga di Kecamatan Bula, Kabupaten Seram Bagian Timur (SBT) Maluku, diimbau terus waspada terhadap potensi penyebab terjadinya Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla). Pasalnya Karhutla akibat kemarau panjang di daerah ini hingga kini tercatat sudah mencapai 138 hektar.
Karhutla di daerah ini diduga kuat sebagian besar disebabkan oleh faktor kesengajaan warga, sedang faktor alam seperti gesekan tanaman alang-alang kemungkinannya sangat kecil.
Kepala Seksi Perlindungan, KSDAE dan Pemberdayaan Masyarakat UPTD KPH Kabupaten SBT, Ibrahim El, dalam acara dialog di studio RRI Bula, Kamis pagi 23 Juli 2026, mengatakan dugaan tersebut berdasarkan hasil pemantauan terhadap sejumlah kejadian kebakaran yang terjadi di wilayah Bula.
"Dari pantauan kami, terkait dengan setiap kejadian kebakaran yang ada di wilayah Bula khususnya, kuat dugaan kami disebabkan oleh faktor kesengajaan," katanya.
Menurut Ibrahim, faktor alam seperti gesekan tanaman alang-alang yang memicu kebakaran sangat kecil kemungkinannya terjadi. Ia memperkirakan faktor alam hanya berkontribusi sekitar 0,5 persen terhadap kejadian karhutla.
"Kalau dari faktor alam yang biasanya dibilang terjadi gesekan-gesekan alang-alang, itu hanya 0,5 persen," ujarnya.
Ibrahim menjelaskan, Kabupaten SBT merupakan salah satu daerah dengan luas lahan kritis cukup besar di Maluku. Dari 11 kabupaten/kota di provinsi tersebut, SBT berada di urutan keempat dengan luas lahan kritis mencapai 34.256 hektare.
Lahan kritis tersebut, kata dia, mayoritas didominasi semak belukar dan alang-alang yang mudah terbakar saat musim kemarau. Kondisi itu menjadi salah satu faktor yang membuat kebakaran hutan dan lahan terus berulang setiap tahun.
"Luas lahan kritis ini umumnya didominasi oleh semak belukar atau alang-alang yang kemudian menjadi faktor pemicu terjadinya kebakaran hutan dan lahan dari tahun ke tahun," ujarnya.
Terkait dugaan adanya pembakaran secara sengaja, Ibrahim menyebut pihaknya telah berkoordinasi dengan Kepala KPH SBT untuk membangun komunikasi dengan instansi terkait, termasuk dalam penanganan aspek hukum.
"Memang persoalan kebakaran yang ada itu bukan persoalan biasa, tapi memang ada persoalan kesengajaan. Kalau masyarakat tidak diberikan efek jera, dari tahun ke tahun kebiasaan itu akan terus dilakukan," katanya.
Meski demikian, hingga saat ini belum ada pihak yang ditetapkan sebagai pelaku pembakaran. Ibrahim menyebut KPH masih menjalankan fungsi perlindungan hutan sembari melakukan upaya pencegahan.
"Sampai sekarang belum ada indikasi pelaku," ucapnya.
KPH SBT sebelumnya telah melakukan sosialisasi dan imbauan kepada masyarakat, khususnya di wilayah Kecamatan Teluk Waru, agar tidak melakukan aktivitas yang berpotensi memicu kebakaran.
Ibrahim mengingatkan kondisi kemarau ekstrem yang terjadi saat ini berpotensi memperbesar risiko karhutla. Puncak kemarau diperkirakan terjadi pada Agustus dan dapat berlangsung hingga akhir tahun atau awal tahun berikutnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....