“Sedia Aku Sebelum Hujan” dan Hutan yang Hilang
- 14 Des 2025 11:07 WIB
- Bukittinggi
KBRN, Bukittinggi: Lagu “Sedia Aku Sebelum Hujan” karya Idgitaf kini kerap menjadi latar video banjir dan longsor di berbagai wilayah Sumatera. Lagu ini terasa semakin relevan ketika hujan tidak lagi sekadar simbol kesedihan, melainkan nyata membawa bencana dan kehilangan bagi banyak keluarga.
Di Sumatera, hujan yang turun deras sering kali berubah menjadi banjir bandang dan longsor. Salah satu penyebab yang terus berulang adalah hilangnya hutan sebagai penyangga alam. Ketika pepohonan ditebang, tanah kehilangan kemampuan menyerap air, dan hujan pun berubah menjadi ancaman.
Lirik “sebelum hujan” seakan menjadi peringatan yang datang terlambat. Alam sebenarnya sudah memberi tanda jauh hari. Namun, penebangan hutan, alih fungsi lahan, dan eksploitasi tanpa kendali membuat hujan tidak lagi bisa ditahan oleh bumi.
Dalam konteks ini, “sedia aku” bukan hanya permintaan personal, tetapi juga seruan kolektif. Seruan agar manusia bersedia menjaga alam sebelum bencana datang. Bersedia berpikir jangka panjang, bukan hanya mengejar keuntungan sesaat.
Video-video bencana yang menggunakan lagu ini memperlihatkan rumah hanyut, sawah rusak, dan jalan terputus. Semua itu menunjukkan bahwa kerusakan lingkungan bukan isu jauh, tetapi nyata dan dekat dengan kehidupan sehari-hari masyarakat Sumatera.
Idgitaf, sebagai musisi muda Indonesia, dikenal lewat karya-karya yang jujur dan reflektif. Lagu-lagunya sering menyentuh tema kegelisahan, ketakutan, dan kesiapan menghadapi hidup. Tanpa disadari, karyanya kini menjadi soundtrack duka sekaligus pengingat akan kelalaian manusia terhadap alam.
Hujan dalam lagu ini dapat dimaknai sebagai akumulasi dari kesalahan manusia. Saat hutan habis, sungai menyempit, dan tanah kehilangan daya ikatnya, hujan tak lagi membawa kesuburan, melainkan kehancuran.
Bencana banjir dan longsor bukan hanya takdir alam, tetapi juga akibat dari keputusan manusia. Penebangan hutan yang tidak terkendali membuat masyarakat kecil menjadi korban. Mereka menanggung dampak dari kerusakan yang sering tidak mereka lakukan.
Lagu ini akhirnya menjadi simbol kelelahan dan harapan. Kelelahan masyarakat menghadapi bencana berulang, dan harapan agar ada perubahan nyata. Agar pembangunan tidak lagi mengorbankan hutan dan keselamatan manusia.
Kesimpulannya, viralnya “Sedia Aku Sebelum Hujan” di tengah bencana Sumatera adalah cermin kenyataan pahit. Bahwa sebelum hujan turun, seharusnya ada kesiapan, kepedulian, dan perlindungan terhadap alam. Jika hutan terus hilang, hujan akan terus menjadi ancaman, bukan berkah. (AMY/YPA)