Mengapa Koruptor Selalu Merasa Tidak Pernah Cukup
- 08 Des 2025 13:30 WIB
- Bukittinggi
KBRN, Bukittinggi: Dalam psikologi koruptor, rasa cukup hampir tidak pernah ada. Mereka selalu merasa membutuhkan lebih banyak kekuasaan dan uang daripada yang sudah dimiliki.
Korupsi sering berawal dari kesempatan kecil yang dibiarkan. Lama-kelamaan, perilaku itu berubah menjadi kebiasaan.
Keserakahan muncul ketika seseorang merasa dirinya pantas mendapatkan lebih. Mereka menyamakan status dengan jumlah uang yang dikuasai.
Rasa takut kehilangan kekuasaan membuat koruptor terus mengumpulkan harta. Mereka tidak ingin kembali hidup seperti orang biasa.
Koruptor sering memandang kekayaan sebagai bukti berhasil dalam hidup. Padahal keberhasilan yang sesungguhnya adalah integritas dan kontribusi positif.
Kebiasaan membandingkan diri dengan yang lebih tinggi membuat mereka tidak puas. Mereka selalu ingin mengejar gaya hidup yang lebih mewah.
Lingkungan pergaulan juga memperkuat perilaku korupsi. Persaingan status ekonomi mendorong tindakan tidak bermoral.
Semakin besar uang yang dikelola seseorang, semakin besar godaannya. Tanpa pengendalian moral, kekuasaan dapat menjerumuskan.
Dalam banyak kasus, koruptor tidak menyadari bahwa dirinya sudah kelewat batas. Kebutuhan yang diikuti sebenarnya hanyalah ilusi keinginan tanpa akhir.
Korupsi tidak hanya merugikan negara, tetapi juga menghancurkan nilai-nilai kemanusiaan pelakunya. Serakus apa pun, kesenangan dari korupsi tidak akan pernah membuat hati tenang. (AMY/YPA)