Syekh Djamil Djambek dan Warisan Pendidikan Surau
- 10 Mar 2026 06:17 WIB
- Bukittinggi
RRI.CO.ID, Bukittinggi - Nama Syekh Muhammad Djamil Djambek atau Inyiak Djambek dikenal sebagai salah satu ulama besar Minangkabau yang memberi pengaruh penting dalam perkembangan pemikiran Islam di Indonesia. Beliau tidak hanya dikenal sebagai ulama, tetapi juga pendidik, pembaharu pemikiran Islam, serta tokoh yang menginspirasi banyak tokoh bangsa di Indonesia.
Syekh Muhammad Djamil Djambek lahir di Bukittinggi sekitar tahun 1860 atau 1862. Ayahnya bernama Saleh Datuk Maleka yang merupakan penghulu sekaligus kepala nagari Kurai. Beliau wafat pada 30 Desember 1947 di Bukittinggi setelah menjalani kehidupan panjang dalam dakwah dan pendidikan Islam.
Dalam perjalanan hidupnya, Djamil Djambek mengalami perubahan besar. Masa mudanya dikenal penuh gejolak dan jauh dari kehidupan religius. Namun setelah mengalami berbagai peristiwa dalam hidupnya, ia mulai mendalami agama dan kemudian menempuh perjalanan menuntut ilmu ke Mekkah selama beberapa tahun. Di Mekkah, ia berguru kepada ulama besar Minangkabau, Syekh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi. Dari sanalah Djamil Djambek mendalami berbagai ilmu agama seperti fiqih, tafsir, hingga hadist. Pengetahuan tersebut kemudian ia bawa pulang ke tanah Minangkabau untuk memperbarui cara dakwah dan pendidikan Islam di masyarakat.
Sekembalinya ke Sumatera Barat, Djamil Djambek dikenal sebagai salah satu pelopor gerakan pembaruan Islam pada awal abad ke-20. Ia mendorong masyarakat untuk kembali kepada ajaran Islam yang lebih murni serta memperkuat pendidikan agama sebagai dasar pembentukan karakter umat. Perannya tidak hanya sebagai ulama yang berdakwah di mimbar, tetapi juga sebagai pendidik yang membina generasi muda melalui lembaga pendidikan berbasis surau. Surau pada masa itu tidak hanya menjadi tempat belajar agama, tetapi juga pusat pembentukan karakter, kepemimpinan, dan kedisiplinan bagi para murid. Dalam sistem pendidikan yang dikembangkan Djamil Djambek, para murid tidak hanya mempelajari ilmu agama, tetapi juga dibimbing dalam pembentukan akhlak, cara berpikir, dan tanggung jawab sosial. Model pendidikan seperti ini menjadikan surau sebagai ruang pembinaan spiritual sekaligus intelektual bagi masyarakat Minangkabau.
Pengaruh pemikiran Djamil Djambek juga terlihat dari lahirnya generasi intelektual yang kemudian berperan dalam perjalanan bangsa. Salah satu muridnya yang terkenal adalah Mohammad Hatta, yang pernah belajar agama di Surau Tangah Sawah yang diasuh oleh Inyiak Djambek. Dalam berbagai literatur sejarah, Djamil Djambek juga dikenal sebagai tokoh yang mendorong pentingnya dakwah langsung kepada masyarakat. Ia menggunakan pendekatan tabligh, yakni menyampaikan ajaran agama secara aktif melalui ceramah, diskusi, dan pendidikan kepada masyarakat luas. Pendekatan tersebut membuat ajaran Islam semakin dekat dengan kehidupan masyarakat. Dakwah tidak hanya berlangsung di ruang ibadah, tetapi juga menjadi bagian dari kehidupan sosial sehari-hari
Melalui pemikiran dan pengabdiannya, Syekh Muhammad Djamil Djambek meninggalkan jejak penting dalam sejarah pendidikan dan pembaruan Islam di Indonesia. Nilai-nilai yang ia ajarkan tetap relevan hingga sekarang, terutama dalam membentuk generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga kuat secara spiritual dan berkarakter.