Green Lifestyle, Tren atau Kebutuhan untuk Kesehatan?

  • 04 Mar 2026 14:21 WIB
  •  Bukittinggi

RRI.CO.ID, Bukittinggi – Beberapa waktu belakangan ini, green lifestyle makin sering dibahas dan terlihat di media sosial. Mulai dari bawa tumbler, pilah pilih sampah, sampai pilih transportasi ramah lingkungan, semuanya terlihat keren dan kekinian. Tapi menurut World Health Organization (WHO, 2021), gaya hidup ramah lingkungan sebenarnya berkaitan langsung dengan kesehatan manusia, bukan sekadar tren.

Lingkungan yang bersih dan sehat punya dampak besar pada kualitas hidup. WHO (2022) mencatat bahwa sekitar 24% masalah kesehatan global dipengaruhi oleh faktor lingkungan seperti polusi udara dan air. Artinya, menjaga lingkungan sama saja dengan menjaga kesehatan diri sendiri.

Green lifestyle juga berhubungan dengan kebiasaan hidup sehari-hari. Pola makan berbasis tanaman, misalnya, disebut oleh Harvard T.H. Chan School of Public Health (2020) dapat menurunkan risiko penyakit jantung dan obesitas. Jadi, pilihan makanan ramah lingkungan ternyata juga membawa manfaat kesehatan jangka panjang.

Selain itu, penggunaan transportasi ramah lingkungan seperti berjalan kaki atau bersepeda juga berdampak positif. Menurut Centers for Disease Control and Prevention (CDC, 2021), aktivitas fisik ringan yang rutin dapat meningkatkan kesehatan jantung dan mental. Jadi, green lifestyle bukan cuma soal bumi, tapi juga soal tubuh yang lebih aktif dan sehat.

Pada akhirnya, green lifestyle bukan lagi sekadar gaya hidup hits. United Nations Environment Programme (UNEP, 2022) menegaskan bahwa perubahan gaya hidup individu sangat penting untuk keberlanjutan lingkungan dan kesehatan global. Jadi, green lifestyle adalah kebutuhan nyata untuk masa depan yang lebih sehat, bukan cuma tren sesaat. (AMP/YPA)

Rekomendasi Berita