Bisik Serayu Festival 2026 Gelar 'Agresi Budaya' Selamatkan Sungai Serayu
- 28 Agt 2026 13:20 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Bisik Serayu Festival 2026 akan digelar untuk ketiga kalinya pada 29–30 Agustus 2026 di Sungai Serayu, Banyumas.
- Festival ini diselenggarakan oleh Rianto Dance Studio dengan lokasi di Joglo Gayatri, Desa Kaliori, Kecamatan Kalibagor, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah.
- Festival tahun ini membawa misi Agresi Budaya sebagai gerakan kesenian yang masif, lantang, dan suportif untuk merebut kembali kesadaran manusia atas kelestarian alam.
RRI.CO.ID, Banyumas — Sungai Serayu tak lagi sekadar menjadi aliran air di Banyumas, melainkan panggung bagi ikrar ekologis dan penyatuan seni budaya lintas benua. Melalui inisiasi Rianto Dance Studio, Bisik Serayu Festival 2026 kembali akan digelar untuk ketiga kalinya pada 29–30 Agustus 2026, berpusat di tepi Sungai Serayu, tepatnya di Joglo Gayatri, Desa Kaliori, Kecamatan Kalibagor, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah.
Demikian disampaikan dalam Siaran Pers yang diterima Redaksi, Jum'at 28 Agustus 2026. Menurut Rianto, Festival tahun ini membawa misi besar yang disebut sebagai Agresi Budaya—sebuah gerakan kesenian yang masif, lantang, dan suportif untuk merebut kembali kesadaran manusia atas kelestarian alam.
"Usungan tema utamanya meliputi tiga pilar: Bisik Air (Svara Tirta), Pijak Bumi (Prajna Pertiwi), dan Temu Rasa (Manunggaling Warga),” kata Rianto.
Lebih lanjut dirinya menjelaskan, daya tarik dan highlight paling memikat pada festival tahun ini terletak pada rangkaian Prosesi Manten Gethek. “Pertunjukan berbasis air (water-based performance) ini bukan sekadar hiburan visual, melainkan sebuah laku spiritual dan kosmologi Banyumasan yang memvisualisasikan "pernikahan suci" antara manusia dengan Sungai Serayu,” ujarnya.
Dukungan penuh terhadap perhelatan ini disampaikan oleh Anggota Komisi VII DPR RI yang membidangi Pariwisata, Siti Mukaromah, S.Ag., M.AP. Dirinya menegaskan bahwa kekuatan terbesar Banyumas bukan hanya terletak pada warisan seni dan keindahan bentang alamnya, melainkan pada nilai moral luhur yang dikandungnya.
"Bisik Serayu Festival ini memuat esensi falsafah Banyumas yang lahir dari tiga pilar utama: Gunung Slamet, Sungai Serayu, dan karakter Blakasuta. Ketiganya bukan sekadar simbol geografis atau karakter sosial, tetapi fondasi etika yang menjadi kontribusi nyata Banyumas bagi pembangunan karakter bangsa Indonesia," ujar Siti Mukaromah.
Menurut legislator PKB tersebut, perpaduan ketiga pilar melahirkan nilai falsafah mendalam: Gununge mulang kukuh (Gunung Slamet mengajarkan keteguhan dan integritas), Serayune mulang mili (Sungai Serayu mengajarkan keluwesan, kerukunan, dan keberlanjutan), serta Blakasuta mulang jujur (keberanian menyampaikan kebenaran dengan tata krama).
"Rumusan ini melahirkan manusia Banyumas yang ideal: Teguh tanpa angkuh, ngeli tanpa keli, dan blakasuta tanpa gawe lara,” ujarnya.
Bisik Serayu Festival 2026 ini juga memadukan masyarakat akar tradisi desa, warga urban, hingga seniman metropolitan dan internasional. Selama dua hari penyelenggaraan, panggung festival diramaikan oleh pertunjukan dari penampil lokal, nasional, hingga mancanegara, yakni Prancis (Florence Boyer), Jepang (Tim Dewandaru Dance Company dan Kulu-Kulu), Singapura (Maya Dance Theater & The Diverse Abilities Dance Collective (DADC)), dan Australia, serta kolaborasi fashion show Diajeng Teguh Geggo bersama Serat Jiwa.
Festival ini akan dihadiri juga oleh Siti Mukaromah S.Ag.,M.AP (Anggota Komisi VII DPR RI), Sadewo Tri Lastiono (Bupati Banyumas), DR. Restu Gunawan, M.hum (Direktur Jendral Perlindungan Kebudayaan Dan Tradisi), serta berbagai Komunitas Seni dan Budaya. Acara akan ditutup dengan pagelaran ketoprak yang dimainkan oleh para warga Desa Kaliori.
Penyelenggara berharap perhelatan ini tidak berhenti sebagai agenda tahunan semata, melainkan menjadi pemantik kesadaran masyarakat untuk memelihara ekosistem budaya dan alam Sungai Serayu demi keberlanjutan peradaban di masa depan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....