Momentum Desainer Muda Merespon Spirit Ulos Simetria
- 12 Agt 2026 12:46 WIB
- Pusat Pemberitaan
RRI.CO.ID, Jakarta - Wastra Sumatra tampil lebih dinamis, segar, serenta berpadu harmoni dengan sentuhan style muthakir. Ini semua merupakan hasil kreasi para murid asal sekolah mode dari Immerse Fashion Academy, UIC College of Fashion, Il Teatro Della Moda Indonesia, dan JF Art School.
Semuanya tampil pada gelaran pembuka hari ketiga mengusung tema ‘Momentum’ di dalam rangkaian BTN Indonesia Fashion Week 2026.
Para desainer muda tersebut merespon Ulos sebagai inspirasi utama BTN Indonesia Fashion Week 2026.
Ulos bukan sekadar wastra, melainkan sebagai sebuah sistem berpikir, karena di balik struktur geometri presisi dan berulang, merepresentasikan nilai keseimbangan, keteraturan, serta hubungan saling melengkapi. Ulos Simetria sebagai tema utama menjadi simbol bahwa harmoni tidak lahir dari keseragaman, melainkan dari keberagaman nan berjalan berdampingan secara setara.
Koleksi desainer muda jenama Bykarenju asal Immerse Fashion Academy membuka gelaran dengan menampilkan sembilan look gaun mengenakan tone putih dan pastel. Lalu disusul hasil rancangan sembilan desainer lainnya menghadirkan sembilan look gaun beragam dan eklektik berwarna gelap, hitam, merah, dan biru.
“Koleksi ini untuk merangkul mode melampaui ritme tren sesaat. Tiap kreasi dirancang untuk menggugah emosi dan menginspirasi kehadiran bermakna,” kata Karen Junianti desainer Bykarenju.
Selanjutnya titian peraga diwarnai koleksi desainer dari Il Teatro Della Moda Indonesia dengan tema ‘Antara Arah dan Ruang’ dinukil dari gabungan tiga tema. Di antaranya ‘Gunslinger’ diterjemahkan melalui siluet tegas, konstruksi presisi, dan perpaduan garis-garis terstruktur dengan bentuk modern.
Lalu ada ‘L'équilibre’ menghadirkan harmoni antara struktur dan ekspresi melalui perpaduan siluet bersih. Ini disulap dengan detail dinamis, permainan proporsi, tekstur, dan komposisi material menciptakan rancangan modern dan elegan.
Adapula ‘Chi va piano va lontano’ melalui perpaduan siluet lengkung dan garis tegas menggunakan palet warna bumi. Seperti moss green, dark brown, nude, beige, dan terracotta untuk menghadirkan kesan hangat, membumi, dan autentik.

“Koleksi Gunslinger merupakan refleksi dari perjalanan pribadi saya dalam menghadapi tantangan hidup. Setelah didiagnosis mengidap penyakit autoimun di usia 17 tahun, saya harus berhenti menari—sesuatu yang selama ini menjadi bagian dari identitas saya,” kata Natalie Grace perancangan Gunslinger.
“Bagi saya, Gunslinger adalah simbol ketangguhan, pengendalian diri, dan keberanian. Untuk terus melangkah meski jalan di depan belum sepenuhnya pasti."

Bersambung kemudian, masih dari desainer Il Teatro Della Moda Indonesia. Namun bersalin tema mengusung ‘Epilog Sentuhan’, bersumber dari tiga tema, di antaranya Cocoon Butterfly: Transformation dengan siluet terstruktur, tekstur organik.
Kemudian permainan material menggambarkan proses bertumbuh, Sculpture Meets Painting: Silent Beauty memadukan siluet tegas namun tetap mengalir, keseimbangan antara antara struktur dan kelembutan. Permainan cahaya, bayangan, material transparan, serta palet warna hitam, perak, oranye, dan nude memperkuat karakter setiap rancangan, dan Eternal Form, dan AVE MATER: Gratitude & Courage dengan siluet elegan dan nuansa klasik.
Berlanjut pada koleksi lainnya dengan semangat menerjemahkan masa depan melalui tema ‘The Future of Fashion: Redefining Tomorrow’. Koleksi para desainer asal UIC College of Fashion tersebut sangat futuristik dengan masing-masing menaja tema, ‘Fragments of Identity’, ‘A'MEN’, ‘BRÜTALIST’, ‘Madman's Literature’, ‘Nap Of Star’, ‘Love that Awaits Across Centuries’, dan ‘Neo-Arrakis’.

Koleksi tersebut sangat beragam merespon isu teraktual melalui representasi dari simbol perlawanan, arsitektur brutalisme, ambang kewarasan, genderless, gairah dan pengorbanan, dan dunia Dune. Tiap siswa senior menampilkan lima look sementara junior menyajikan satu look terinspirasi dari British Council.
“Jadi, ketika saya membangun koleksi saya, tujuannya adalah untuk menyediakan ruang aman bagi orang-orang dianggap aneh atau berbeda. Sebagai tempat aman untuk membayangkan kembali tubuh sebagai tempat sakral,” kata Gabriella Ixchel Bain memapar koleksi ‘Fragments of Identity’ dengan mengusung isu identitas dan transformasi melalui inspirasi dari subkultur Jepang.
Sebagai pamungkas, koleksi desainer dari JF Art School melantai pada titian peraga mengusung tema ‘Celestial Lumina’. Ini menampilkan sembila look, lalu ‘Silk & Spores’ sembilan look, dan ‘Sculpture Denim’ juga sembilan look.
Para desainer muda tersebut mampu menghadirkan koleksi tak hanya menghadirkan ragam siluet. Perpindahan tema pada tiap material, tetapi juga cerita pada masing-masing koleksi.
"Nah, koleksi kami terinspirasi dari cerita masing-masing, personal. Namun selama proses desain itu kami mencari dan menggali lagi estetika dari tema-tema itu sehingga hasilnya seperti koleksi di panggung IFW," kata Bella Anaswara.

Seluruh koleksi dari masing-masing desainer muda bahkan masih menyandang status mahasiswa dan pelajar tersebut tak hanya menghiasi. Tetapi mengisi dan melengkapi rangkaian cerita Ulos Simetria pada gelaran BTN Indonesia Fashion Week 2026.

Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....