Arsip Suara 1930 Hidupkan Kembali Ingatan Tradisi Flores Timur

  • 12 Agt 2026 19:15 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Arsip rekaman suara masyarakat Flores Timur tahun 1930 kembali diperdengarkan melalui proyek restitusi digital
  • Rekaman tersebut membangkitkan ingatan masyarakat sekaligus mendorong upaya menghidupkan kembali tradisi lintas generasi
  • Peneliti menilai pelestarian warisan budaya memerlukan keterlibatan langsung masyarakat sebagai pewaris tradisi

RRI.CO.ID, Jakarta – Arsip rekaman suara masyarakat Flores Timur yang dibuat pada 1930 kembali diperdengarkan kepada komunitas asalnya di Nusa Tenggara Timur. Restitusi digital tersebut membangkitkan ingatan masyarakat sekaligus memantik upaya menghidupkan kembali tradisi yang diwariskan lintas generasi.

Rekaman tersebut dibuat etnomusikolog Belanda Jaap Kunst saat mendokumentasikan musik dan tradisi masyarakat Flores pada 1930. Dokumentasi itu mencakup 182 lagu dalam 75 silinder lilin serta menjadi bagian Koleksi Jaap Kunst di Universiteit van Amsterdam.

Proyek restitusi digital dipimpin etnomusikolog Universiteit van Amsterdam, Barbara Titus bersama peneliti Institute of Resource Governance and Social Change (IRGSC). Sebelumnya, koleksi yang telah didigitalkan diserahkan kepada Pemerintah Nusa Tenggara Timur melalui Dinas Kearsipan dan Perpustakaan pada September 2024.

Pada akhir Juli 2026, arsip tersebut kembali diperkenalkan kepada masyarakat melalui sejumlah kegiatan di Kupang. Namun, tim kemudian membawanya langsung ke Lewoloba, Waibao, dan Riangkroko di Flores Timur.

Barbara menilai arsip budaya belum sepenuhnya kembali apabila hanya tersimpan dan diakses di Kupang. Menurutnya, masyarakat sumber memiliki pengetahuan mengenai bahasa, syair, serta tradisi yang tidak tercatat dalam arsip.

Di Lewoloba, warga mengenali lagu-lagu lama sekaligus mengoreksi urutan syair yang pernah dicatat Jaap Kunst. Rekaman tersebut juga menginspirasi masyarakat menampilkan kembali tiga tarian dan dua nyanyian tradisional pada 9 Agustus 2026.

Sementara di Waibao, rekaman lama memunculkan diskusi mengenai perubahan tradisi di tengah perkembangan zaman. Sebagian masyarakat menilai tradisi masih bertahan, sedangkan lainnya berharap bentuk aslinya tetap dipertahankan.

"Tradisi selalu berubah," kata Barbara dalam keterangan tertulis, Rabu, 12 Agustus 2026. Menurutnya, perubahan bentuk tidak serta-merta berarti hubungan masyarakat dengan tradisi telah terputus.

Pengalaman berbeda dirasakan masyarakat Riangkroko ketika keturunan penyanyi dalam rekaman mendengar kembali suara leluhurnya. Momen tersebut menjadi kali pertama sebagian warga mendengar suara anggota keluarga yang direkam hampir seabad lalu.

Barbara menilai digitalisasi arsip hanyalah langkah awal dalam upaya pelestarian warisan budaya masyarakat. Menurutnya, arsip akan kembali hidup ketika bertemu masyarakat yang masih mengenali bahasa, musik, syair, dan tradisinya.

"Itu pertama-tama membutuhkan pembangunan dan pemeliharaan hubungan. Itu paling baik dilakukan bersama-sama," ujarnya.

Menurut Barbara, masyarakat perlu memiliki ruang untuk menentukan cara memaknai dan memanfaatkan arsip budaya tersebut. Ia menilai hubungan antargenerasi menjadi kunci menjaga keberlanjutan tradisi di tengah perubahan zaman.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....