'Gerakan Bawah Tanah', Perjuangan Senyap Menjelang Proklamasi
- 12 Agt 2026 11:21 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Gerakan pemuda dan tokoh nasional memanfaatkan jaringan rahasia untuk berdiskusi dan menyebarkan gagasan kemerdekaan selama masa pendudukan Jepang.
- Perjuangan ini berlangsung secara berkelanjutan dari periode pendudukan Jepang hingga Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945.
- Sutan Sjahrir menjadi salah satu tokoh dibalik perjuangan senyap menuju kemerdekaan Indonesia bersama sejumlah tokoh pemuda lainnya.
RRI.CO.ID, Jakarta – Perjuangan menuju kemerdekaan Indonesia tidak hanya berlangsung melalui organisasi bentukan pemerintah pendudukan Jepang. Sejumlah tokoh dan kelompok pemuda juga bergerak untuk mempertahankan gagasan kemerdekaan Indonesia.
Gerakan tersebut berkembang selama pendudukan Jepang hingga menjelang Proklamasi 17 Agustus 1945. Para tokoh dan pemuda memanfaatkan berbagai jaringan rahasia untuk berdiskusi serta menyebarkan gagasan kemerdekaan.
Melansir Arsip Nasional Republik Indonesia, salah satu tokoh yang berperan dalam perjuangan kemerdekaan adalah Sutan Sjahrir. Ia berperan sebagai intelektual perintis dan revolusioner kemerdekaan Indonesia.
Selain Sjahrir, kelompok pemuda di Jakarta turut memainkan peranan penting menjelang Proklamasi. Mereka mengembangkan aktivitas melalui berbagai tempat yang menjadi ruang berkumpul dan berdiskusi.
Salah satu tempat tersebut adalah Asrama Angkatan Baru Indonesia di Jalan Menteng Raya 31. Pemerintah Jepang mengizinkan pemuda menggunakan tempat tersebut sebagai asrama sejak Juli 1942.
Sukarni ditunjuk sebagai pimpinan asrama, Chaerul Saleh sebagai wakil, dan A.M. Hanafi sebagai sekretaris umum. Tempat tersebut kemudian menjadi salah satu lingkungan penting bagi aktivitas pemuda menjelang kemerdekaan.
Situasi semakin tegang setelah Jepang menyerah kepada Sekutu pada 15 Agustus 1945. Para pemuda kemudian mendesak Soekarno dan Mohammad Hatta segera memproklamasikan kemerdekaan.
Perbedaan pandangan antara golongan muda dan golongan tua kemudian memuncak pada 16 Agustus 1945. Golongan muda menghendaki Proklamasi dilakukan tanpa menunggu keputusan Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia.
Pada hari yang sama, Soekarno dan Mohammad Hatta dibawa para pemuda ke Rengasdengklok, Karawang. Langkah tersebut dilakukan untuk mendesak keduanya segera memproklamasikan kemerdekaan tanpa menunggu keputusan Jepang.
Peristiwa Rengasdengklok berlangsung karena perbedaan pandangan mengenai waktu dan cara pelaksanaan Proklamasi. Setelah Ahmad Soebardjo memberikan jaminan, Soekarno dan Hatta kemudian kembali ke Jakarta pada malam hari.
Setelah kembali ke Jakarta, Soekarno dan Hatta bersama Ahmad Soebardjo menemui Laksamana Tadashi Maeda. Rumah Maeda kemudian digunakan sebagai tempat perumusan naskah Proklamasi.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....