Tokoh Lintas Negara Bersatu Dukung Atlet Difabel Dunia

  • 27 Jul 2026 10:35 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Kampanye 100 CTFP mendapat dukungan tokoh budaya, sastra, dan media dari berbagai negara.
  • Jalur Sutra dimaknai sebagai penyebar nilai kemanusiaan, empati, dan inklusi sosial.
  • Enam tokoh dunia memimpin gerakan mendukung kesetaraan bagi atlet difabel.

RRI.CO.ID, Jakarta - Jalur Sutra tidak lagi sekadar menjadi koridor peradaban yang menghubungkan Timur dan Barat selama ribuan tahun. Jalur bersejarah itu kini berkembang menjadi poros penyebaran nilai kemanusiaan, empati, dan inklusi sosial lintas negara.

Semangat tersebut bergema dalam The 6th Silk Road International Festival serta rangkaian penghargaan United Nations World Silk Road Forum. Momentum itu turut memperkuat kampanye global 100 CTFP (Celebrities Talk for Para Athletes) di tingkat internasional.

Kampanye tersebut memperoleh dukungan luas dari tokoh budaya, sastra, dan media internasional. Dukungan itu menunjukkan kepedulian terhadap kesetaraan serta masa depan atlet difabel di berbagai negara.

Gerakan tersebut dipimpin enam Honorary Chairpersons yang menjadi pelopor kampanye 100 CTFP di sepanjang Jalur Sutra. Mereka berasal dari China, Kazakhstan, Uzbekistan, Kyrgyzstan, dan Mesir.

Enam tokoh itu ialah Cao Shui, Wang Fangwen, Ulugbek Yesdaulet, Usmon Azim, Altynai Temirova, dan Ashraf Aboul-Yazid. Mereka berkomitmen memperluas kolaborasi lintas negara melalui gerakan kemanusiaan yang mendukung atlet difabel.

Cao Shui menjadi figur sentral yang menggerakkan kolaborasi lintas benua melalui pendekatan budaya dan sastra. Penyair asal China itu juga menerima World Silk Road Culture Outstanding Contribution Award atas kontribusinya.

Ia juga menjabat Chairman of the Beijing International Poetry Film Festival yang memperkuat perannya sebagai jembatan budaya. Kepeduliannya terhadap penyandang disabilitas mendorong lahirnya gerakan moral melalui kampanye 100 CTFP.

Melalui gerakan tersebut, Cao Shui mengajak sekitar 100 tokoh besar Asia bergabung mendukung atlet difabel dunia. Langkah itu diharapkan memperluas solidaritas serta kepedulian lintas negara terhadap penyandang disabilitas.

Wang Fangwen turut memperkuat gerakan sebagai President of the International Poetry Committee United Nations World Silk Road Forum. Ia juga menjadi Distinguished Professor pada Modern College of Northwest University di Xi'an, China.

Perpaduan kiprah akademik dan sastra Wang Fangwen memperkuat gaung gerakan kemanusiaan di kawasan Asia Timur. Kehadirannya memberikan landasan intelektual bagi kampanye yang mengedepankan kesetaraan dan inklusi sosial.

Perluasan solidaritas juga menjangkau Asia Tengah melalui Ulugbek Yesdaulet asal Kazakhstan. Ia menjabat Chairman of the Union of Writers of Kazakhstan serta Council of the TURKSOY Writers Union.

Dukungan dari Afrika dan Timur Tengah datang melalui Ashraf Aboul-Yazid asal Mesir. Ia menjabat Secretary-General of the Congress of African Journalists dan mantan President of the Asia Journalists Association.

Ashraf juga menerima Manhae Grand Prize serta Arab Journalism Award atas kiprahnya di bidang jurnalistik. Pengalamannya memperkuat dialog kebudayaan lintas benua yang semakin inklusif bagi masyarakat dunia.

Kolaborasi lintas negara tersebut membuktikan dukungan terhadap atlet difabel melampaui batas wilayah maupun budaya. Gerakan 100 CTFP diharapkan menyatukan kepedulian dunia terhadap kesetaraan, empati, dan inklusi sosial.

Sumber: Natalia, Founder of the Maria Monique Last Wish Foundation.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....