Garebeg Besar Keraton Yogyakarta Sarat Makna Sedekah Raja

  • 30 Mei 2026 07:37 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Grebeg Besar di Surakarta maupun Yogyakarta memiliki akar sejarah yang sama, yakni sebagai wujud syukur dan sedekah raja kepada rakyatnya.
  • Tradisi ini menjadi sedekah raja kepada kawula melalui gunungan hasil bumi secara simbolis,
  • Persiapan gunungan berlangsung sekitar satu bulan, sebab beberapa bahan membutuhkan pengeringan matahari cukup lama secara alami.

RRI.CO.ID, Jakarta - Pemerhati budaya dan Abdi Dalem Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat, Widya Chandra Ismaya Ningrat, mengurai makna Garebeg Besar tahunan keraton. Grebeg Besar di Surakarta maupun Yogyakarta memiliki akar sejarah yang sama, yakni sebagai wujud syukur dan sedekah raja kepada rakyatnya.

Perbedaan teknis pelaksanaan pada tahun 2026 ini menunjukkan bahwa tradisi Jawa bersifat dinamis. "Grebeg Besar bisa tampil bersahaja dalam balutan keprihatinan ekonomi, namun juga bisa tampil inklusif untuk merangkul antusiasme publik. Tradisi ini menjadi sedekah raja kepada kawula melalui gunungan hasil bumi secara simbolis," jelasnya kepada PRO3.

Chandra menerangkan gunungan memuat lambang kesempurnaan, umur panjang, serta hubungan raja dan masyarakat yang terus dijaga secara bersama. “Elemen seperti bantengan dan kasang panjang memiliki pesan khusus,” paparnya, karena setiap bentuk menyimpan ajaran leluhur keraton Yogyakarta.

Ia memaparkan persiapan gunungan berlangsung sekitar satu bulan, sebab beberapa bahan membutuhkan pengeringan matahari cukup lama secara alami. “Kalau memakai oven, hasilnya buruk,” ulas Chandra, seraya menyebut abdi dalem terlibat menyusun gunungan bersama putri keraton Yogyakarta.

Chandra merinci tinggi gunungan sekitar dua setengah hingga tiga meter, biasanya dibawa menuju sejumlah titik keramaian warga Yogyakarta. Namun tahun ini, arak-arakan ditiadakan sehingga isi gunungan dibagikan kepada abdi dalem dan sentana dalem di lingkungan keraton.

Ia menilai antusiasme warga muncul karena Garebeg Besar dianggap pengalaman langka sekaligus ruang merawat ingatan budaya bersama keraton. Chandra berpesan masyarakat memaknai tradisi tanpa mencampuradukkan agama, sembari memperkuat edukasi budaya melalui media sosial bagi generasi muda.

Keraton Yogyakarta menyederhanakan tahapan prosesi upacara adat Garebeg atau Grebeg Besar yang bertepatan Hari Raya Iduladha 1447H/Dal 1959 pada Rabu, (27 Mei 2026). Perhelatan kali ini akan berlangsung jauh lebih sederhana tanpa tradisi arak-arakan prajurit keraton dan prosesi rayahan gunungan oleh masyarakat pada penghujung acara.

Pihak Keraton Yogyakarta melalui penanggungjawab prosesi Kanjeng Raden Tumenggung Kusumanegara menuturkan, penyederhanaan format upacara adat tersebut dilakukan demi mematuhi dhawuh atau titah Raja Keraton Yogyakarta Sri Sultan Hamengku Buwono X.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....