Mengenal Sosok Florence Nightingale, Pelopor Keperawatan Modern Dunia

  • 12 Mei 2026 16:18 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Hari Perawat Internasional diperingati setiap 12 Mei bertepatan dengan kelahiran Florence Nightingale.
  • Florence Nightingale dikenal sebagai pelopor keperawatan modern dan tokoh reformasi pelayanan kesehatan dunia
  • International Council of Nurses resmi menetapkan Hari Perawat Internasional pada Januari 1974.

RRI.CO.ID, Jakarta - Setiap 12 Mei, dunia memperingati Hari Perawat Internasional sebagai penghormatan terhadap jasa para perawat. Tanggal tersebut dipilih karena bertepatan dengan hari kelahiran Florence Nightingale, pelopor keperawatan modern dunia.

Melansir dari laman Britannica, Florence Nightingale mengubah wajah keperawatan menjadi profesi berbasis ilmu pengetahuan modern. Melalui perjuangannya, profesi perawat berkembang menjadi pekerjaan terhormat dengan dasar etika, disiplin, dan pengabdian kemanusiaan.

Hari Perawat Internasional juga menjadi momentum menyoroti kontribusi besar perawat dalam sistem kesehatan dunia modern. Peringatan tersebut biasanya diisi seminar, kampanye kesehatan, dan penghargaan bagi tenaga keperawatan di berbagai negara.

Sosok Florence Nightingale

Florence Nightingale lahir pada 12 Mei 1820 di Florence, Italia, dari keluarga Inggris terpandang dan berkecukupan. Sebagai perempuan kelas atas abad ke-19, Nightingale sebenarnya memiliki kehidupan nyaman dan terhormat di lingkungannya.

Namun, Nightingale memilih jalan hidup berbeda dibanding perempuan bangsawan pada masa tersebut. Ia merasa terpanggil mengabdikan hidupnya untuk melayani sesama melalui dunia kesehatan dan kemanusiaan.

Pada 7 Februari 1837, Nightingale mengaku menerima panggilan spiritual untuk membantu sesama manusia yang membutuhkan. Keputusan tersebut tidak mudah karena profesi perawat saat itu dipandang rendah oleh masyarakat Eropa.

Meski menghadapi penolakan keluarga, Nightingale tetap mempelajari matematika, filsafat, bahasa, dan agama dari ayahnya. Pengetahuan tersebut kemudian menjadi dasar pendekatan ilmiah dalam memperbaiki sistem pelayanan kesehatan modern.

Perang Krimea dan Julukan “The Lady with the Lamp”

Nama Florence Nightingale mulai dikenal luas saat Perang Krimea berlangsung pada 1853 hingga 1856 di Eropa. Perang tersebut melibatkan Britania Raya, Perancis, dan Turki melawan Rusia dalam konflik berskala besar.

Pada 1854, Nightingale membawa 38 perawat menuju rumah sakit militer Scutari yang kini berada di Istanbul. Saat itu, kondisi rumah sakit sangat buruk dengan lingkungan kotor, minim air bersih, dan kekurangan makanan bergizi.

Melihat kondisi tersebut, Nightingale mulai melakukan reformasi besar terhadap sistem pelayanan rumah sakit militer. Ia membersihkan bangsal, memperbaiki ventilasi udara, serta memastikan pasien memperoleh nutrisi dan perawatan layak.

Selain itu, Nightingale juga mencatat data kematian secara sistematis untuk mengetahui penyebab tingginya angka korban. Reformasi tersebut membuat tingkat kematian tentara turun drastis setelah perbaikan sanitasi dilakukan secara menyeluruh.

Setiap malam, Nightingale berjalan menyusuri lorong rumah sakit sambil membawa lampu minyak untuk memeriksa pasien. Dari kebiasaan tersebut, ia kemudian dikenal luas dengan julukan “The Lady with the Lamp”.

Julukan tersebut menjadi simbol dedikasi, empati, dan kesetiaan perawat dalam mendampingi pasien selama masa sulit. Hingga kini, sosok Nightingale tetap dikenang sebagai ikon pelayanan kemanusiaan dalam dunia kesehatan global.

Membangun Keperawatan Modern

Setelah Perang Krimea, Florence Nightingale kembali ke Inggris sebagai tokoh yang dihormati masyarakat luas. Namun, ia tidak berhenti pada ketenaran dan terus membangun dasar profesi keperawatan modern dunia.

Pada 1860, Nightingale mendirikan Nightingale Training School for Nurses di St Thomas’ Hospital, London. Sekolah tersebut menjadi tonggak penting lahirnya pendidikan formal dalam dunia keperawatan modern.

Model pendidikan Nightingale kemudian berkembang ke berbagai negara seperti Amerika Serikat, Australia, hingga Asia. Keperawatan tidak lagi dipandang pekerjaan amal, melainkan profesi terlatih dengan standar dan tanggung jawab jelas.

Nightingale juga menulis buku berjudul “Notes on Nursing: What It Is and What It Is Not”. Buku tersebut menjadi salah satu referensi penting dalam pendidikan keperawatan modern di berbagai negara.

Dalam bukunya, Nightingale menekankan pentingnya lingkungan bersih dan pengamatan teliti terhadap kondisi pasien. Ia juga menyoroti pentingnya hubungan saling percaya antara perawat dan pasien dalam proses penyembuhan.

Ilmu Statistik dan Reformasi Kesehatan

Florence Nightingale dikenal sebagai tokoh yang menggabungkan empati dengan pendekatan ilmu pengetahuan dalam pelayanan kesehatan. Ia menggunakan data statistik untuk menunjukkan banyak kematian dapat dicegah melalui sanitasi yang baik.

Nightingale juga menjadi pelopor penggunaan visualisasi data kesehatan dalam dunia medis modern saat itu. Diagram dan laporan statistik digunakan untuk mendorong perubahan kebijakan kesehatan dan reformasi rumah sakit.

Meski menderita sakit kronis, Nightingale terus menulis laporan, buku, dan surat mengenai reformasi kesehatan masyarakat. Ia mendorong perbaikan rumah sakit militer, sanitasi kota, dan pendidikan perawat di berbagai wilayah dunia.

Florence Nightingale wafat pada 13 Agustus 1910 dalam usia 90 tahun di Inggris. Namun, gagasan dan warisannya tetap hidup dalam perkembangan dunia keperawatan modern hingga sekarang.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....