Simak Lima Tradisi Lebaran Betawi yang Unik dan Patut Dilestarikan

  • 11 Apr 2026 12:37 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Tradisi Lebaran Betawi lahir dari perpaduan berbagai etnis di Batavia yang memperkaya nilai budaya dan kearifan lokal.
  • Ragam tradisi seperti nyorog, kebo andilan, hingga takbiran keliling mencerminkan kuatnya nilai kebersamaan dan silaturahmi.
  • Seiring perkembangan zaman, sejumlah tradisi mulai memudar sehingga perlu upaya pelestarian agar tidak hilang.

RRI.CO.ID, Jakarta - Indonesia memiliki bermacam-macam suku dengan adat budayanya tersendiri. Budaya ini biasanya tercermin dalam perayaan keagamaan seperti Lebaran.

Suku Betawi, yang merupakan orang asli Jakarta, pun demikian, ada banyak tradisi Lebaran Betawi yang menarik diketahui. Jika ditelisik sejarahnya, suku Betawi merupakan campuran dari berbagai macam etnis pendatang yang dulunya tinggal di Batavia (Jakarta).

Mengutip dari buku Suku Bangsa Dunia dan Kebudayaannya, Pram (2013:70). Asal muasal ini memengaruhi dan memperkaya tradisi budaya yang dimiliki suku Betawi.

Sayangnya, masih banyak yang belum mengetahui tradisi-tradisi ini dan banyak yang sudah hampir punah. Begitu pula dengan tradisi Lebarannya yang setiap tahun selalu diadakan.

Lantas, tradisi unik apa saja yang mewarnai Lebaran Betawi dan masih bertahan hingga kini? Berikut ragam tradisi yang sarat makna dan patut dilestarikan.

1. Nyorog atau Tukar Rantang

Berbagi makanan di rantang merupakan salah satu tradisi bulan Ramadan khas suku Betawi. Tradisi ini biasanya dilakukan antar tetangga dan anggota keluarga di awal bulan puasa dan di akhir bulan puasa.

Rantang diisi dengan makanan seperti opor, kari ayam, ketupat ketan, dodol dan makanan khas Betawi lainnya. Penerima rantang nantinya akan mengembalikan rantang tersebut ke pemiliknya dengan masakannya sendiri.

2. Kebo Andilan

Ini adalah tradisi di mana masyarakat Betawi melakukan arisan atau urunan membeli kerbau di tiap awal bulan Ramadan. Nantinya, kerbau ini akan disembelih dan disantap bersama-sama sehari atau dua hari sebelum Lebaran.

Di zaman sekarang, tradisi ini sudah mulai memudar dibandingkan dahulu kala. Salah satu alasannya adalah semakin sempitnya lahan pemukiman yang tidak memungkinkan untuk menggembala kerbau.

3. Silahturahmi Selama Sepekan

Tradisi menyambangi rumah kerabat untuk bersilahturahmi selama tujuh hari adalah ciri khas tradisi suku Betawi. Khususnya yang tinggal di daerah Cengkareng.

Alasan di balik tradisi ini adalah untuk menjaga ikatan silahturahmi. Meskipun sehari-harinya semua orang tetap sibuk bekerja dan beraktivitas.

4. Takbiran Keliling

Tradisi ini dilakukan di malam sebelum hari H Lebaran di mana segerombolan orang. Biasanya pemuda, keliling kota untuk bertakbir sambil memukul bedug dengan kentongan.

Dulunya, tradisi ini juga beririsan dengan kebiasaan pemuda untuk bermain bleduran di malam bulan puasa dan takbiran. Bleduran atau bledukan adalah permainan meniup meriam bambu dengan karbit atau minyak tanah sebagai 'peluru'-nya.

5. Tradisi Makan Ketupat

Meskipun ketupat masih dinikmati secara luas sebagai makanan yang disantap saat Lebaran. Suku Betawi memiliki tradisinya makan ketupatnya sendiri.

Biasanya, tradisi makan ketupat dilakukan di hari keenam setelah Lebaran. Hal ini menandai berakhirnya masa puasa sunnah setelah iIdulfitri.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....