‘Ogoh-Ogoh’ jadi Bagian Ritual Nyepi dan Daya Tarik Budaya di Denpasar
- 19 Mar 2026 15:50 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Tradisi ogoh-ogoh menjadi bagian penting dalam rangkaian ritual Buta Yadnya menjelang Hari Raya Nyepi bagi umat Hindu
- Ogoh-ogoh melambangkan unsur negatif dalam kehidupan manusia yang diharapkan dapat dinetralisir melalui rangkaian ritual keagamaan
- Pawai ogoh-ogoh tidak hanya bersifat religius, tetapi juga berkembang menjadi ajang kreativitas masyarakat dan daya tarik wisata budaya
RRI.CO.ID, Denpasar - Tradisi ogoh-ogoh menjadi bagian penting dalam rangkaian ritual menjelang Hari Raya Nyepi bagi umat Hindu. Pawai patung simbolis ini merepresentasikan unsur negatif yang hendak dinetralisir sebelum memasuki hari suci.
Dilansir dari laman Indonesia Kaya, umat Hindu melaksanakan Upacara Melasti beberapa hari sebelum Nyepi untuk penyucian diri. Ritual ini juga mencakup pembersihan perangkat peribadahan di pura sebagai bagian penting dari persiapan spiritual.
Menjelang Nyepi, masyarakat Hindu juga melaksanakan ritual Buta Yadnya yang dilakukan sehari sebelum hari raya berlangsung. Upacara ini bertujuan menetralisir unsur negatif yang diwujudkan dalam konsep buta kala dalam kehidupan manusia.
Buta Yadnya terdiri dari dua tahapan utama, yaitu mecaru dan ngrupuk yang dilakukan berurutan oleh masyarakat. Mecaru merupakan persembahan sesaji kepada buta kala yang dilaksanakan dari tingkat keluarga hingga wilayah administratif lebih luas.
Selain itu, ngrupuk dilakukan dengan cara mengelilingi lingkungan sambil membuat bunyi-bunyian dan menyebarkan asap dupa. Tradisi ini bertujuan mengusir unsur negatif agar tidak mengganggu kehidupan manusia menjelang perayaan Nyepi.
Dalam rangkaian tersebut, ogoh-ogoh menjadi bagian penting yang berkembang menjadi festival tahunan penuh kreativitas masyarakat. Patung ini merepresentasikan sifat buruk dan kejahatan dalam kehidupan manusia melalui bentuk visual yang mencolok.
Awalnya, ogoh-ogoh dibuat menggunakan rangka bambu dan kertas sebagai bahan utama pembentuk strukturnya. Namun kini, banyak ogoh-ogoh dibuat menggunakan styrofoam untuk menghasilkan bentuk tiga dimensi yang lebih detail.
Proses pembuatan ogoh-ogoh dapat berlangsung selama berminggu-minggu tergantung ukuran, bahan, dan tingkat kerumitan desainnya. Selain itu, jumlah sumber daya manusia yang terlibat juga memengaruhi lama pengerjaan patung tersebut.
Pembuatan ogoh-ogoh umumnya dilakukan oleh pemuda di tingkat banjar yang ingin menampilkan karya terbaik mereka. Kegiatan ini menjadi wadah kreativitas sekaligus mempererat kebersamaan antarwarga dalam lingkungan masyarakat setempat.
Pelaksanaan pawai ogoh-ogoh dilakukan serentak sehari sebelum Nyepi dengan pengaturan rute untuk menjaga ketertiban. Pemerintah setempat turut mengatur jalannya kegiatan agar aman sekaligus menjadi daya tarik wisata budaya bagi pengunjung.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....