Akulturasi Imlek di Indonesia dari Masa ke Masa
- 15 Feb 2026 09:56 WIB
- Pusat Pemberitaan
RRI.CO.ID, Jakarta - Perayaan Imlek telah menjadi bagian dari warisan budaya Indonesia sejak lama. Hal ini encerminkan akar sejarah komunitas Tionghoa di Nusantara.
Dari sejarahnya, tradisi perayaan Imlek sudah muncul sejak kedatangan pedagang Tionghoa di Nusantara. Mulai dari abad ke-4 sampai abad ke-7 Masehi.
Melansir Indonesiaexpat, selama masa kolonial Belanda, komunitas Tionghoa tetap merayakan Imlek di kawasan pemukiman mereka, sekaligus beradaptasi dengan budaya lokal. Hubungan sosial antara Tionghoa dan pribumi menghasilkan akulturasi budaya, termasuk seni, musik, dan kuliner.
Dahulu, sekelompok orang Tionghoa yang tiba di kepulauan Indonesia secara umum dan Jawa secara khusus. Tidak hanya berprofesi sebagai pedagang, tetapi juga sebagai penulis, seniman, dan musisi.
Mereka memicu proses akulturasi budaya yang ditandai dengan produksi berbagai karya seni berkualitas seperti sastra, wayang, dan musik. Karya sastra Tionghoa-Jawa yang ditulis antara tahun 1880 hingga 1900-an tersebar di berbagai perpustakaan di Depok, Jakarta, Solo, Yogyakarta, Leiden, dan Berlin.
Pada masa kemerdekaan awal Indonesia, Imlek sempat diakui sebagai salah satu hari raya. Namun, berdasarkan masa pembatasan ekspresi budaya Tionghoa di tahun 1967-an membuat perayaan Imlek hanya boleh dilakukan di dalam rumah.
| Baca juga: Ini Dia Tradisi 1 Muharram di Pulau Jawa |
Selama masa Orde Baru, perayaan Imlek cenderung dilakukan secara pribadi oleh komunitas Tionghoa, tanpa tampil di ruang publik. Pembatasan simbol budaya Tionghoa ini berdampak pada cara Imlek dirayakan dan menekan ekspresi budaya yang sebelumnya lebih terbuka.
Perubahan besar terjadi setelah reformasi 1998. Ketika Presiden Abdurrahman Wahid mengeluarkan instruksi yang menghapus aturan pembatasan budaya Tionghoa.
Hal ini membuka ruang bagi masyarakat untuk merayakan Imlek secara publik. Serta semakin percaya diri memperlihatkan tradisi budaya secara luas.
Pengakuan formal sebagai hari libur nasional pada tahun 2003 semakin mengukuhkan posisi Imlek di Indonesia. Sejak itu, perayaan Imlek tidak hanya dilakukan oleh komunitas Tionghoa tetapi juga dirayakan bersama masyarakat luas di berbagai daerah sebagai bentuk toleransi.
Akulturasi Imlek juga terlihat dalam cara tradisi disesuaikan dengan budaya Indonesia setempat. Contohnya, kegiatan bazar budaya dan pertunjukan kolaboratif yang memadukan unsur Melayu atau lokal.
Hingga kini, Imlek mencerminkan pluralitas budaya Indonesia, dengan masyarakat non-Tionghoa ikut merayakan dan mengapresiasi nilai budaya Imlek sebagai bagian dari kebhinekaan. Perayaan Imlek menggambarkan bahwa budaya bukan statis, tetapi dinamis dan terus beradaptasi dalam tatanan sosial Indonesia.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....