Puasa Digital Prapaskah Kendalikan Diri dan Gadget

  • 21 Feb 2026 10:09 WIB
  •  Bovendigoel

RRI.CO.ID, Boven Digoel - Selama masa Prapaskah, umat Katolik diajak untuk memperdalam pengendalian diri. Tidak hanya melalui berpantang makanan dan minuman, tetapi juga dengan mengelola kebiasaan sehari-hari. Salah satu pantangan yang kini semakin populer adalah mengurangi penggunaan media sosial dan gadget, yang diyakini dapat membantu umat lebih fokus pada spiritualitas dan hubungan dengan Tuhan.

Ibu Kristina Teagi, seorang guru katekese dan prodiakon di Boven Digoel, menyadari bagaimana kebiasaan penggunaan media sosial dan gadget bisa mengalihkan perhatian umat dari hal-hal yang lebih bermakna.

“Tantangan terbesar dalam Prapaskah kali ini adalah mengendalikan kebiasaan yang selama ini mengalihkan perhatian kita dari Tuhan, seperti media sosial. Puasa itu bukan hanya menahan lapar. Kita juga diajak untuk mengendalikan kebiasaan yang mengganggu hubungan spiritual kita dengan Tuhan, seperti ketergantungan pada gadget dan media sosial,” ujar kristina, Jumat, 20 Februari 2026.

Prapaskah kali ini lebih dari sekadar menahan lapar. Ini adalah waktu untuk memperbaiki kebiasaan buruk yang mengganggu relasi dengan Tuhan dan sesama. Salah satu perubahan signifikan yang ia terapkan adalah mengurangi waktu di media sosial dan menghindari penggunaan ponsel secara berlebihan. Waktu yang biasanya habiskan untuk menjelajahi dunia maya kini ia alihkan untuk kegiatan yang lebih produktif dan mendekatkan diri kepada Tuhan.

“Ini bukan hanya soal mengurangi hiburan. Saya memilih untuk mengosongkan pikiran dari informasi yang tidak penting dan menggantinya dengan hal-hal yang lebih membangun, seperti berdoa, refleksi, dan berinteraksi langsung dengan sesama,” tambahnya.

Manfaat puasa digital yang diterapkan Kristina, menurutnya, sangat signifikan. Selain dapat meningkatkan kualitas hubungan dengan Tuhan, mengurangi penggunaan gadget memberikan ketenangan batin dan membuka ruang untuk interaksi lebih bermakna dengan orang-orang terdekat. Ini juga memungkinkan umat untuk berfokus lebih pada hal-hal spiritual, seperti doa dan refleksi pribadi, daripada terjebak dalam kecanduan informasi yang tidak penting.

“Puasa bukan hanya soal apa yang kita tahan, tetapi bagaimana kita mengubah diri kita untuk menjadi lebih baik,” tutup Kristina

Rekomendasi Berita