Kreasi Anting Genemo Lestarikan Budaya
- 04 Mar 2026 06:32 WIB
- Bovendigoel
RRI.CO.ID, Boven Digoel - Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) berbasis kerajinan tangan masih menjadi salah satu tumpuan ekonomi masyarakat di daerah. Di Boven Digoel, tepatnya di Kampung Mawan, Distrik Mandobo, seorang ibu rumah tangga bernama Mama Dortea Tekaerop terus mempertahankan usaha anyaman berbahan tali genemo sebagai sumber penghasilan keluarga.
Mama Dortea yang telah menekuni kerajinan ini sejak beberapa tahun terakhir, memproduksi anting-anting dan berbagai aksesoris lain dengan teknik anyaman tradisional. Bahan utama yang digunakan adalah tali genemo yang dipadukan dengan pewarna alami untuk menghasilkan warna-warna menarik seperti kuning, putih, hitam, biru, dan merah.
“Isi dalam anting yang saya pakai berasal dari buah-buahan yang dalam bahasa daerah mandobo disebut tin, danop, dan mengga. Semua itu kami dapatkan dari alam sekitar. Saya membuat anting-anting ini dengan penuh ketelatenan karena ingin menjaga budaya sekaligus mendukung ekonomi keluarga,” ujar Mama Dortea.
Dalam proses pembuatannya, Mama Dortea membutuhkan waktu sekitar empat hingga lima hari untuk menyelesaikan beberapa pasang anting. Selain menggunakan tali genemo, ia juga memanfaatkan kawat atau besi kecil sebagai pengait anting. Hasil kerajinan tersebut dijual langsung dari rumahnya di Kampung Mawan. Pembeli biasanya datang sendiri untuk mengambil pesanan, tetapi produk juga dipasarkan saat mengikuti pameran atau ditawarkan ke sekolah dan tempat-tempat ramai di sekitar Tanah Merah.
“Kalau kita hanya diam dan simpan di rumah, orang tidak tahu dan tidak bisa beli. Kita harus berani tawarkan supaya bisa terjual. Rezeki sudah Tuhan atur, tapi kita juga harus berusaha,” ujar Mama Dortea dengan penuh semangat.
Dalam satu hari, Mama Dortea mengaku bisa menjual sekitar lima hingga delapan pasang anting, tergantung jumlah pesanan dan kondisi pasar. Anting dijual dengan harga Rp30.000 per pasang, sedangkan produk lain seperti bando kepala dihargai antara Rp30.000 hingga Rp100.000, serta sarung tisu dengan harga Rp100.000.
Pendapatan dari penjualan kerajinan ini digunakan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, membiayai sekolah anak, serta membeli kembali bahan baku untuk produksi selanjutnya. Sebagian bahan terkadang dibantu oleh kerabat atau warga sekitar ketika stok mulai berkurang.
Meski dijalankan secara sederhana, usaha anyaman tali genemo ini tidak hanya membantu perekonomian keluarga, tetapi juga menjaga pemanfaatan bahan lokal berbasis budaya daerah. Mama Dortea berharap ke depan ada perhatian dari pemerintah maupun dinas terkait agar pelaku UMKM kecil seperti dirinya bisa mendapatkan tambahan modal dan pembinaan untuk mengembangkan usaha kerajinan berbahan lokal di Boven Digoel.