Penjual Noken di Boven Digoel Kesulitan tempat Jualan Tetap
- 13 Apr 2026 18:10 WIB
- Bovendigoel
RRI.CO.ID, Boven Digoel - Penjual noken di wilayah Boven Digoel masih menghadapi kendala utama berupa keterbatasan tempat jualan tetap. Kondisi ini membuat sebagian pedagang harus berpindah-pindah lokasi untuk dapat terus bertahan berjualan.
Salah satunya dialami oleh Mama Jelira Kogoya, penjual noken benang yang sudah lama menetap di Boven Digoel. Ia mengaku telah tinggal sejak bertahun-tahun bersama keluarganya.
Saat ini, Mama Jelira berjualan di Jalan Trans Papua, tepatnya di depan kantor RRI Boven Digoel. Lokasi tersebut ia tempati sebagai tempat berjualan sekaligus menjaga area milik warga yang disewakan kepadanya. “Di sini saya cuma numpang jualan dan jaga tempat juga,” ujar Jelira, Senin 13 April 2026.
Ia menjelaskan, sebenarnya ia memiliki tempat jualan di Pasar Kilo 3. Namun karena jumlah pembeli di lokasi tersebut relatif sedikit, ia memilih mencari lokasi lain yang lebih ramai di pinggir jalan.
Menurutnya, para pedagang umumnya mengikuti titik yang dianggap lebih banyak dilalui pembeli, termasuk di kawasan Pasar Titik Nol. Namun hingga kini belum tersedia lapak khusus atau tempat usaha tetap di lokasi strategis tersebut, sehingga ia memilih bertahan di depan RRI sebagai alternatif. “Kalau di pasar sepi pembeli, jadi kami ikut cari tempat di pinggir jalan yang banyak orang lewat,” kata Jelira.
Sebelum menetap di depan RRI, ia juga beberapa kali berpindah lokasi, mulai dari Pasar Kilo 3 hingga depan Bank Papua cabang Kilo 3. “Dari dulu saya sudah pindah-pindah tempat jualan, tidak ada tempat tetap,” ungkapnya.
Kondisi tersebut membuat para pedagang harus terus menyesuaikan diri dengan lokasi yang dianggap lebih potensial untuk mendapatkan pembeli.
Meski sudah lama menetap di Boven Digoel, Mama Jelira masih berharap dapat memiliki tempat usaha sendiri yang tetap dan tidak lagi berpindah-pindah. “Saya mau punya tempat sendiri supaya tidak pindah-pindah lagi,” harapnya.
Menurutnya, kepastian tempat jualan sangat penting agar usaha kerajinan noken dapat berkembang lebih baik dan stabil. Saat ini, ia hanya mengandalkan lokasi seadanya untuk tetap bisa menjual hasil karyanya.
Noken yang dijual merupakan hasil kerajinan tangan khas Papua yang dibuat secara manual menggunakan benang warna dan jarum sulam. Noken tersebut dijual dengan harga Rp100.000 hingga Rp500.000, dengan berbagai ukuran, mulai dari noken kecil untuk telepon genggam, noken untuk buku, hingga noken besar untuk membawa hasil kebun bahkan menggendong anak.
Selain noken, ia juga menjual aksesoris seperti gelang dan cincin pasangan dengan harga Rp10.000 hingga Rp20.000 per pasang.
Proses pembuatan noken memakan waktu antara tiga hingga tujuh hari, tergantung ukuran dan tingkat kesulitan. Meski demikian, keterbatasan tempat turut memengaruhi proses pemasaran hasil kerajinan tersebut.
Mama Jelira berharap ke depan dapat memiliki tempat jualan sendiri agar dapat menjual noken langsung dari tempat usaha tanpa harus berjualan di pinggir jalan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....