Hari Anak Nasional, Sudahkah Suara Anak Didengar?

  • 22 Jul 2025 17:12 WIB
  •  Bone

KBRN, Bone: Momentum Hari Anak Nasional yang diperingati setiap 23 Juli menjadi pengingat penting bagi seluruh elemen bangsa, bahwa anak-anak bukan hanya generasi penerus, tetapi juga subjek pembangunan yang memiliki hak untuk didengar. Namun, pertanyaan mendasar masih bergema: sudahkah suara anak benar-benar didengar, khususnya di Kabupaten Bone?

Andi Muhammad Farid Fausan Bate, aktivis perlindungan hak anak yang juga pernah menjadi pengurus Forum Anak Kabupaten Bone dan fasilitator Forum Anak Sulawesi Selatan, menyebut bahwa ruang bagi suara anak di Bone mulai terbuka. “Aspirasi anak-anak mulai mendapat tempat, meskipun masih butuh penguatan. Isu yang paling sering disuarakan adalah kekerasan dalam rumah tangga, perundungan di sekolah, pernikahan usia anak, dan kurangnya ruang aman bagi anak,” ungkapnya saat ditemui di kediamannya, Selasa (22/07/2025).

Forum Anak yang dibentuk oleh pemerintah sebagai wadah bagi anak-anak dalam menyampaikan aspirasi, pandangan, dan kebutuhan anak kepada pemerintah , memiliki mekanisme tersendiri dalam proses penyampaian aspirasi. “Melalui Musrenbang Anak, penyusunan rekomendasi, hingga audiensi langsung. Media sosial juga menjadi alat yang kami gunakan untuk menyuarakan kegelisahan anak-anak terhadap isu-isu yang mereka alami,” jelasnya.

Ia menekankan bahwa suara anak bukan hanya didengar, tetapi harus direspons dengan tindakan nyata. Namun, tidak semua anak memiliki akses yang sama. Menurut Farid, anak-anak di wilayah pedesaan masih menghadapi kendala dalam hal informasi dan ruang berekspresi. “Ada pula anggapan yang masih mengakar bahwa anak belum layak terlibat dalam pengambilan keputusan. Ini tantangan budaya yang harus diurai secara perlahan dan bijak,” imbuhnya.

Perhatian terhadap perlindungan anak dari kekerasan dan diskriminasi juga mulai meningkat. Pemerintah Kabupaten Bone telah memiliki sejumlah kebijakan, termasuk program Perlindungan Anak Terpadu Berbasis Masyarakat (PATBM). Tapi Farid menegaskan, “Masalahnya bukan hanya pada regulasi, tetapi pada implementasi yang harus menjangkau hingga ke pelosok desa.”

Ia juga mengajak masyarakat untuk turut menjadi bagian dari solusi. “Perlindungan anak bukan semata tugas pemerintah. Perlu kolaborasi lintas sektor dan kesadaran kolektif bahwa anak-anak adalah aset bangsa yang harus dijaga dengan kasih dan keadilan,” kata Farid.

Di akhir wawancara, ia menyampaikan pesan khusus kepada seluruh anak-anak di Bone. “Kalian berharga, kuat, dan punya hak untuk bersuara. Jangan takut bermimpi dan menyampaikan pendapat. Hari Anak Nasional ini bukan hanya perayaan, tetapi pengingat bahwa kalian adalah agen perubahan, hari ini dan di masa depan,” tutupnya.

Rekomendasi Berita