Mahasiswa KPI IAIN Bone Soroti Perkembangan AI Terkini

  • 20 Jun 2025 18:34 WIB
  •  Bone

KBRN,Bone: Perkembangan Artificial Intelligence (AI) kini semakin nyata di tengah kehidupan masyarakat. Teknologi ini tidak lagi sekadar wacana masa depan, melainkan sudah hadir dalam berbagai aspek kehidupan seperti ponsel, kamera, dunia pendidikan, media sosial, hingga dakwah digital. Kehadirannya yang cepat dan masif menimbulkan respons beragam, mulai dari kekaguman hingga kecemasan.

Sebagian kalangan melihat AI sebagai solusi yang mampu meningkatkan efisiensi kerja dan kreativitas. Namun, bagi sebagian pekerja kreatif dan pendidik, AI justru dianggap sebagai ancaman yang berpotensi menggantikan peran-peran manusia. Dengan kemampuannya menghasilkan tulisan, berbicara, mengedit video, bahkan membuat konten dakwah secara otomatis, AI memunculkan kebutuhan bagi manusia untuk bersikap adaptif.

Mahasiswi Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) IAIN Bone, Melisa, menilai bahwa AI merupakan tantangan sekaligus peluang bagi insan komunikasi. Ia mengungkapkan bahwa teknologi ini memang dapat menggantikan sejumlah peran manusia dalam bidang komunikasi dan dakwah. Namun, peluang terbesar justru terletak pada bagaimana manusia dapat memanfaatkan AI sebagai alat bantu yang memperkuat pesan, bukan sebagai pengganti esensi komunikasi yang bersifat manusiawi.

“Teknologi cerdas tidak akan pernah mampu menggantikan keikhlasan, empati, dan niat yang tulus dalam berdakwah. AI dapat berbicara, tetapi tidak memiliki hati. Oleh karena itu, peran manusia tetap utama. Kita perlu mengarahkan teknologi ini agar tetap membawa nilai-nilai positif dalam dakwah,” ujarnya pada Jumat(20/6/2025).

Ia juga menekankan bahwa masyarakat, khususnya umat Islam, perlu diberikan pemahaman yang benar tentang AI. AI harus dipahami sebagai alat bantu, bukan otoritas agama atau pengganti peran ulama. Menurut Melisa, fenomena maraknya “ustaz AI” di berbagai platform media sosial perlu dihadapi dengan meningkatkan literasi digital agar masyarakat tidak mudah terpengaruh oleh informasi yang tidak memiliki landasan keilmuan dan adab yang tepat.

Selain itu, Melisa juga mendorong peran aktif pemerintah, perguruan tinggi, dan lembaga dakwah dalam menyusun regulasi serta meningkatkan literasi AI yang berlandaskan etika dan nilai-nilai kemanusiaan. Menurutnya, tanpa pengawasan yang tepat, AI berpotensi disalahgunakan sebagai alat penyebaran informasi keliru, propaganda, bahkan manipulasi opini publik.

Melisa menegaskan bahwa masa depan adalah era transisi yang penting dalam hubungan manusia dan AI. Untuk itu, generasi muda, khususnya mahasiswa, perlu membekali diri dengan pengetahuan dan keterampilan yang relevan agar mampu menjadi pelaku yang sadar teknologi, bukan sekadar pengguna pasif. Menurutnya, langkah ini harus dimulai sejak dini dengan terus belajar, memahami, dan menerapkan nilai-nilai Islam dalam ruang digital, termasuk dalam pemanfaatan AI.

Rekomendasi Berita