Tantangan Pendidikan di Tengah Maraknya Kasus Pelecehan Seksual
- 03 Mei 2025 06:51 WIB
- Bone
KBRN, Bone: Memperingati Hari Pendidikan Nasional, perhatian terhadap dunia akademik tidak hanya sebatas pada peningkatan kualitas pembelajaran, namun juga pada persoalan sosial yang tengah menggerogoti institusi pendidikan seperti maraknya kasus pelecehan seksual. Fenomena ini menjadi alarm keras bagi semua pihak, khususnya di lingkungan kampus yang seharusnya menjadi ruang aman dan nyaman bagi para mahasiswa.
Dalam wawancara khusus dengan Dita Maharani, mahasiswa Program Studi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI) IAIN Bone, ia menegaskan bahwa pendidikan tidak boleh hanya dipandang sebagai proses mengejar nilai akademik semata. “Pendidikan bukan hanya soal nilai, IPK, atau gelar. Tapi juga soal kepedulian, rasa kemanusiaan, dan bagaimana kita saling menjaga, khususnya terhadap mereka yang menjadi korban pelecehan seksual,” ujarnya, Jumat (2/5/2025).
Dita menyayangkan sikap acuh tak acuh sebagian akademisi dan mahasiswa terhadap kasus-kasus pelecehan seksual yang terjadi di lingkungan sekitar. Menurutnya, pendidikan yang ideal harus menumbuhkan karakter dan empati terhadap sesama, terutama korban kekerasan seksual yang kerap memilih diam karena takut, malu, atau khawatir terhadap stigma sosial.
“Ketika ada teman kita yang mengalami pelecehan seksual dan kita tidak peduli, maka di situlah pendidikan kita gagal. Pendidikan sejati membentuk karakter yang berani membela yang benar dan peduli terhadap penderitaan orang lain,” tegas Dita.
Lebih lanjut, ia mengajak semua elemen kampus—baik dosen, mahasiswa, maupun tenaga pendidik—untuk lebih peka dan aktif menciptakan lingkungan yang aman dan terbuka. Ia juga menyoroti pentingnya edukasi seksual sejak dini yang holistik dan berperspektif gender, agar generasi muda memahami batasan, hak, dan keberanian untuk bersuara.
“Jangan biarkan rasa takut dan malu mengubur kebenaran. Kampus harus jadi ruang yang membela, bukan malah membungkam. Jangan sampai ada yang terluka di balik senyapnya dunia akademik kita,” tutupnya.
Momentum Hari Pendidikan Nasional ini menjadi refleksi penting bahwa pendidikan bukan hanya soal kurikulum dan prestasi, tapi juga soal keberanian untuk melawan ketidakadilan dan membela kemanusiaan. Pendidikan harus menjadi benteng, bukan celah bagi kekerasan. Sudah saatnya semua pihak bergerak bersama melawan pelecehan seksual di lingkungan akademik.