Anak-anak Dusun Lemo Bone Jalan Kaki Seberangi Sungai Demi Belajar
- 29 Jun 2026 21:08 WIB
- Bone
RRI.CO.ID, Bone - Matahari belum menampakkan sinarnya ketika Annisa mulai bersiap meninggalkan rumahnya di Dusun Lemo, Desa Pattuku, Kecamatan Bontocani, Kabupaten Bone. Jam masih menunjukkan sekitar pukul 05.00 Wita. Dengan tas di pundak, gadis yang akan melanjutkan pendidikan ke Madrasah Aliyah (MA) itu melangkah bersama teman-temannya menyusuri jalan setapak menuju sekolah.
Tak ada kendaraan yang mengantar. Tak ada jalan beraspal yang bisa dilalui. Setiap hari, mereka harus berjalan kaki sekitar dua kilometer melewati jalan tanah, menuruni perbukitan, hingga menyeberangi sungai untuk bisa sampai ke SD Samenre, MTs Pattuku, maupun MA Pattuku.
Perjalanan itu menjadi rutinitas yang tak pernah mereka tinggalkan demi menuntut ilmu. Saat musim kemarau, mereka masih bisa melintasi sungai menggunakan jembatan bambu sederhana yang dibangun secara swadaya oleh warga.
Namun saat hujan turun, jalan berubah menjadi licin dan berlumpur, sementara debit air sungai meningkat sehingga perjalanan menuju sekolah menjadi jauh lebih berisiko. Meski demikian, kondisi itu tak pernah menyurutkan semangat Annisa untuk belajar. "Kalau saya bangun jam lima subuh dan jalan kaki ke sekolah bersama teman-teman," ujar Annisa saat dikonfirmasi, Senin, 29 Juni 2026.
Agar sepatu sekolahnya tetap bersih, Annisa memilih memakai sandal selama perjalanan. Sepatu disimpan di dalam tas dan baru dikenakan ketika sudah tiba di sekolah. "Kalau air naik kami lewat jembatan bambu. Saya tidak takut karena sudah terbiasa," katanya sambil tersenyum.
Perjuangan serupa juga dirasakan Riska, siswi MTs Pattuku. Baginya, berjalan kaki sejauh dua kilometer sudah menjadi rutinitas sehari-hari. Meski harus melewati jalan berlumpur dan sungai, ia mengaku tak pernah berpikir untuk berhenti sekolah. "Capek memang kalau jalan kaki, apalagi kalau hujan jalannya licin. Tapi kami tetap pergi sekolah karena ingin belajar dan mengejar cita-cita," tuturnya.
Menurutnya, musim hujan menjadi tantangan paling berat karena selain jalan berubah menjadi lumpur, arus sungai juga semakin deras. "Kalau hujan kami jalan pelan-pelan supaya tidak jatuh. Kadang sepatu kami simpan dulu di tas, nanti dipakai kalau sudah sampai di sekolah," katanya.
"Sebenarnya ada jalur lain yang lebih aman. Namun, anak-anak harus memutar sejauh sekitar lima hingga enam kilometer apabila tidak melewati sungai. Karena itu, mereka tetap memilih melintasi jembatan bambu meski harus ekstra hati-hati, "tutupnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....