Nilai Bugis Mengantar Putra Bone Pimpin Kementerian Agama

  • 23 Jun 2026 21:29 WIB
  •  Bone

RRI.CO.ID, Bone – Nilai-nilai budaya Bugis menjadi fondasi penting yang membentuk karakter kepemimpinan Menteri Agama RI, yang juga merupakan Ketua Yayasan Al-Ikhlas Ujung Bone, AG. Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, M.A., hingga dipercaya memimpin Kementerian Agama Republik Indonesia. Hal itu disampaikan Ustadz Dr. Muhammad Asriady, S.Hd., M.Th.I., saat mengulas perjalanan hidup dan pemikiran tokoh asal Bone tersebut.

Ustadz Muhammad Asriady mengatakan salah satu pelajaran hidup paling berharga yang dapat dipetik dari perjalanan Nasaruddin Umar adalah kemampuan menyeimbangkan peran sebagai pemimpin dan pengelola organisasi. Menurutnya, keberhasilan tidak hanya ditentukan oleh visi besar, tetapi juga kemampuan mengelola sistem dan memastikan setiap program berjalan efektif. “Kepemimpinan yang kokoh membutuhkan keseimbangan antara visi dan eksekusi. Di sinilah beliau menempatkan diri tidak hanya sebagai seorang leader, tetapi juga sebagai seorang manager,” ujarnya saat di konfirmasi Selasa, 23 Juni 2026.

Ia menjelaskan karakter Nasaruddin Umar dibentuk oleh falsafah hidup masyarakat Bugis yang sarat nilai kemanusiaan dan kebersamaan. Empat nilai utama, yakni Sipakatau, Sipakainge’, Sipakalebbi, dan Sipakatuo, disebut menjadi kompas dalam perjalanan kepemimpinan Menteri Agama tersebut. “Nilai-nilai kearifan lokal inilah yang menjadi kompas kepemimpinan beliau,” kata Asriady.

Menurutnya, nilai Sipakatau mengajarkan pentingnya memanusiakan manusia tanpa membedakan latar belakang, jabatan, maupun golongan. Sementara Sipakainge’ menjadi pengingat bahwa seorang pemimpin harus terbuka terhadap kritik dan masukan demi kemajuan bersama. “Seorang pemimpin bukanlah manusia sempurna, sehingga harus selalu siap menerima teguran yang membangun,” tuturnya.

Asriady juga menyampaikan pesan yang kerap disampaikan Nasaruddin Umar kepada generasi muda, khususnya yang berasal dari daerah. Ia menegaskan bahwa latar belakang geografis bukan penghalang untuk meraih cita-cita besar selama dibarengi kerja keras, profesionalisme, dan semangat belajar yang tinggi. “Geografi bukanlah pembatas bagi kualitas diri dan besarnya mimpi,” ungkapnya.

Selain memiliki mimpi besar, generasi muda juga didorong untuk mampu mewujudkan gagasan melalui tindakan nyata. Menurut Asriady, Nasaruddin Umar menekankan pentingnya konsistensi dalam bekerja dan berkarya karena keberhasilan lahir dari proses panjang yang dijalani dengan sungguh-sungguh. “Dunia tidak kekurangan orang pintar yang punya ide hebat, tetapi dunia membutuhkan orang-orang yang mampu mengeksekusi ide tersebut menjadi kenyataan,” katanya.

Dalam bidang pendidikan, Asriady menjelaskan bahwa Nasaruddin Umar menempatkan pendidikan dan budaya membaca sebagai kunci membangun masa depan bangsa. Pendidikan dinilai berperan membentuk kecerdasan intelektual, emosional, dan spiritual, sedangkan membaca memperluas wawasan sekaligus memperkuat karakter generasi muda. “Kombinasi keduanya merupakan syarat penting untuk menyongsong masa depan Indonesia yang lebih baik,” jelasnya.

Lebih lanjut, ia mengatakan Nasaruddin Umar juga menaruh perhatian besar terhadap penguatan pesantren di era digital. Menurutnya, pesantren harus mampu memadukan penguasaan teknologi dengan pembentukan akhlak serta kepedulian terhadap lingkungan. “Pesantren tidak hanya menjadi pusat pendidikan keagamaan, tetapi juga harus menjadi pelopor dalam menjaga moralitas dan kelestarian alam di tengah tantangan zaman modern,” tutup Asriady.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....