Ramadan Momentum Upgrade Diri Bukan Sekadar Menahan Lapar
- 06 Mar 2026 18:13 WIB
- Bone
RR.CO.ID, Bone - Ramadan seharusnya dimaknai sebagai momentum peningkatan kualitas diri, bukan sekadar menahan lapar dan dahaga. Hal tersebut disampaikan Penyuluh KUA Kecamatan Tonra, Riko Tampati, saat berbincang mengenai makna puasa Ramadan dan pentingnya menjadikan bulan suci sebagai waktu transformasi spiritual, mental, dan akhlak bagi umat Muslim.
Menurut Riko Tampati, puasa bukan hanya ritual tahunan, tetapi sarana meningkatkan ketakwaan sebagaimana dijelaskan dalam Al-Qur’an Surah Al-Baqarah ayat 183. Ayat tersebut menegaskan bahwa kewajiban puasa bertujuan agar manusia mencapai derajat takwa.
“Ramadan itu sebenarnya seperti mode peningkatan diri. Bukan cuma menahan lapar dan haus, tetapi bagaimana kita memanfaatkan bulan ini untuk upgrade spiritual, mental, dan akhlak,” ujar Riko Tampati pada Jumat, 6 Maret 2026.
Ia menjelaskan, masih banyak orang merasa puasa itu berat, namun setelah Ramadan kehidupannya tidak berubah. Hal itu, menurutnya, terjadi karena sebagian orang menjalani puasa tanpa niat yang kuat untuk memperbaiki diri.
“Banyak yang menganggap Ramadan hanya sebagai event tahunan. Padahal seharusnya menjadi waktu untuk mengevaluasi diri dari 11 bulan sebelumnya,” katanya.
Riko menambahkan, perbedaan antara orang yang sekadar menahan lapar dengan orang yang benar-benar berpuasa terletak pada pengendalian diri. Puasa yang utuh tidak hanya menahan makan dan minum, tetapi juga menjaga perilaku dan lisan.
“Kalau hanya menahan lapar, mungkin dia tidak makan dan minum. Tapi kalau masih suka menggunjing, sulit mengontrol emosi, atau bermaksiat, berarti puasanya belum utuh,” jelasnya.
Selain itu, ia juga menyoroti kebiasaan sebagian orang yang menghabiskan waktu dengan tidur selama berpuasa. Menurutnya, pemahaman bahwa tidur saat puasa adalah ibadah sering disalahartikan.
“Memang ada ungkapan tidur orang berpuasa itu ibadah, tapi bukan berarti seharian dihabiskan untuk tidur sampai menjelang berbuka,” ujarnya.
Riko juga mengingatkan bahwa tantangan berpuasa di era modern tidak hanya soal makanan, tetapi juga godaan dari penggunaan gawai dan media sosial. Karena itu, ia mengajak masyarakat memanfaatkan teknologi secara positif.
“Kurangi waktu scrolling media sosial, gantikan dengan tilawah Al-Qur’an, menonton kajian, atau konten yang menambah pengetahuan keislaman,” tutupnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....