Santri Miliki Tanggung Jawab Moral Menjaga Arah Bangsa

  • 06 Feb 2026 22:00 WIB
  •  Bone

RRI.CO.ID,Bone - Wakil Pimpinan Pondok Pesantren Al-Ikhlas Bone, Dr. Muhammad Asriady, S.Hd., M.Th.I., CPSM., menegaskan santri bukan sekadar identitas pendidikan keagamaan. Melainkan kategori sosial dan moral yang memikul tanggung jawab sejarah dalam menjaga arah bangsa, terutama di tengah krisis nilai dan disorientasi peradaban modern.

Menurut Dr. Muhammad Asriady, pemaknaan santri memiliki kedalaman filosofis dan historis yang tidak bisa disederhanakan. Ia menjelaskan bahwa santri merepresentasikan manusia terdidik yang menyatukan kecerdasan intelektual, kepekaan sosial, serta kedalaman spiritual dalam kehidupan sehari-hari.

 “Santri itu bukan hanya soal belajar kitab, tetapi bagaimana ilmu itu menjelma menjadi sikap hidup,” ujarnya saat dikonfirmasi pada jumat,6 Februari 2026.

Secara etimologis, istilah santri memiliki akar makna lintas budaya. Beberapa pakar menelusurinya dari kata Shastri dalam tradisi Sanskerta yang merujuk pada penguasa kitab suci, sementara pendapat lain mengaitkannya dengan bahasa Tamil yang berarti guru mengaji. Dalam konteks lokal Jawa, santri juga dipahami sebagai cantrik, murid yang setia menyertai guru untuk menyerap ilmu sekaligus keteladanan.

Pendekatan sosiologis turut memperkaya makna santri sebagai kelompok masyarakat yang menjadikan nilai-nilai Islam sebagai dasar perilaku sosial. Dalam budaya Bugis, santri dikenal sebagai Ana’ Mangaji, yakni pribadi yang menautkan literasi Al-Qur’an dengan pembentukan karakter, adab, dan tanggung jawab sosial di tengah komunitasnya.

Dr. Muhammad Asriady menekankan bahwa keberadaan santri dan pesantren sejak awal tidak terpisahkan dari misi pembebasan. “Pesantren hadir bukan hanya melawan penjajahan fisik, tetapi juga penjajahan kebodohan dan kemiskinan moral,” katanya. Peran ini dinilai tetap relevan hingga hari ini, ketika tantangan bangsa bergeser ke arah krisis etika, individualisme, dan lemahnya orientasi nilai.

Dalam konteks tersebut, pesantren dipandang sebagai ruang strategis pembentukan manusia seutuhnya. Model pendidikan pesantren dinilai mampu menyeimbangkan aspek intelektual, emosional, dan spiritual secara berkelanjutan, sekaligus membentengi generasi muda dari reduksi makna pendidikan yang semata-mata berorientasi capaian material.

Jejak perjuangan pendidikan pesantren juga tampak di Kabupaten Bone melalui keberadaan Pondok Pesantren Al-Ikhlas yang berdiri sejak tahun 2000. Lahir dari semangat jihad pendidikan para pendirinya, pesantren ini dibangun sebagai respons atas tantangan sosial, kultural, dan keagamaan yang dihadapi masyarakat saat itu.

Dr. Muhammad Asriady menyebut bahwa pesantren tidak boleh terjebak pada romantisme masa lalu, tetapi harus terus melakukan refleksi dan penguatan peran. “Santri masa depan harus mampu membaca zaman tanpa kehilangan pijakan nilai,” ujarnya, seraya menekankan pentingnya integritas moral dalam penguasaan ilmu.

Ia menegaskan, pemaknaan santri yang utuh menjadi kunci dalam melahirkan generasi yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga berakhlak dan berdaya guna bagi masyarakat. “Santri sejati adalah mereka yang ilmunya memberi cahaya, dan kehadirannya menghadirkan manfaat,” pungkasnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....