Rindu Keluarga, Arfian Tetap Jalani Ramadan di Rantau Orang

  • 13 Mar 2026 13:49 WIB
  •  Bone

RRI.CO.ID,Bone – Menjalani Ramadan jauh dari keluarga menjadi pengalaman tersendiri bagi Arfian, S.Tr., M.M., aparatur di Kantor Pertanahan yang kini bertugas di Kabupaten Toraja Utara. Meski berasal dari Kabupaten Bone, ia harus menjalani ibadah puasa di tanah rantau sementara keluarga tercinta berada di kampung halaman.

Arfian yang menjabat sebagai Kepala Seksi Penataan dan Pemberdayaan di Kantor Pertanahan Kabupaten Toraja Utara mengatakan dirinya sudah terbiasa merantau sejak usia muda. Ia mengaku pengalaman bekerja di berbagai daerah membuatnya mampu menyesuaikan diri dengan perbedaan lingkungan dan budaya saat menjalani Ramadan. “Sejak umur 20 tahun saya sudah penempatan di Papua, jadi sudah terbiasa hidup merantau. Kita harus bisa mengendalikan diri, mengatur waktu, dan menikmati perbedaan yang ada,” ujarnya saat dikonfirmasi Jumat, 13 maret 2026.

Menurutnya, menjalani Ramadan di daerah dengan mayoritas masyarakat nonmuslim memiliki tantangan tersendiri, terutama pada suasana siang hari. Namun ia mengapresiasi tingginya toleransi masyarakat setempat terhadap umat muslim yang menjalankan ibadah puasa. “Toleransi di sini sangat tinggi. Bahkan pada hari pertama Ramadan, warung makan banyak yang menutup usahanya sebagai bentuk menghargai umat muslim yang berpuasa,” jelasnya.

Meski demikian, suasana Ramadan di Toraja tetap terasa dengan adanya sejumlah masjid yang aktif digunakan untuk ibadah, termasuk salat tarawih. Arfian menyebut masyarakat muslim di Toraja Utara tetap dapat menjalankan ibadah dengan nyaman meskipun jumlahnya tidak sebanyak di daerah mayoritas muslim. Namun bagi Arfian, hal yang paling dirindukan saat Ramadan adalah kebersamaan dengan keluarga di Bone. Ia mengaku suasana berbuka puasa bersama keluarga serta masakan rumah menjadi kenangan yang selalu teringat saat berada di perantauan. “Yang paling dirindukan tentu suasana keluarga, apalagi masakan rumah. Sayur kelor dan ikan asin itu sederhana tapi rasanya beda kalau dimakan bersama keluarga,” ungkapnya.

Selain itu, Arfian juga merindukan kebiasaan sederhana yang sering dilakukan bersama keluarga menjelang berbuka puasa, seperti berbelanja kebutuhan makanan dan memasak bersama di rumah. Menurutnya, kebersamaan tersebut menjadi bagian penting dari makna Ramadan. Di akhir perbincangan, Arfian berpesan kepada para perantau asal Bone yang menjalani Ramadan jauh dari kampung halaman agar tetap semangat dan menjaga nama baik daerah. “Tetap semangat, buktikan bahwa orang Bone bisa berhasil di mana pun berada dan bisa memberi manfaat saat kembali ke kampung halaman,” pungkasnya.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....