Rantau, Rindu, dan Ramadan yang Menguatkan

  • 20 Feb 2026 20:03 WIB
  •  Bone

RRI.CO.ID, Bone – Bulan suci Ramadan identik dengan keluarga dan kampung halaman. Namun bagi para perantau, Ramadan kerap dijalani dengan suasana berbeda, jauh dari orang tua dan keluarga, sembari menyesuaikan diri dengan budaya dan tradisi di tempat baru.

Andi Andini Radisya Pratiwi, perantau asal Kabupaten Bone yang kini menetap di Bandung sebagai pengajar di salah satu kampus ternama, mengaku Ramadan di rantau menghadirkan perasaan yang kompleks. Sejak ibunya meninggal pada 2011, ia dan keluarga memilih merayakan Lebaran di luar Bone karena suasana rumah yang terasa sunyi dan penuh kenangan. “Sejak mama meninggal, kami jarang Lebaran di Bone. Rumah terasa sunyi dan penuh kenangan, jadi kami lebih memilih berkumpul di tempat lain,” kata Andini kepada RRI.CO.ID saat menjadi narasumber di Program Cerita Ramadan Jumat, 20 Februari 2026.

Meski begitu, Andini mengaku sudah terbiasa menjalani Ramadan jauh dari keluarga. Sejak merantau pada 2001, ia sering menjalani ibadah puasa secara mandiri, namun tetap menemukan kehangatan dari lingkungan sekitar. Tinggal di rumah kos dengan ibu kos yang ramah membuatnya merasa memiliki sosok ibu baru. “Saya sudah merantau sejak lama, jadi terbiasa menjalani Ramadan seperti single fighter. Tapi Alhamdulillah, lingkungan kos sangat hangat, ibu kos seperti ibu sendiri, jadi tidak pernah merasa benar-benar sendirian,” tuturnya.

Pengalaman puasa Andini bahkan tidak hanya di Indonesia. Ia pernah menjalani Ramadan di Jepang saat menimba ilmu di negeri Sakura. Tantangannya jauh lebih besar karena pada musim dingin waktu berbuka sangat lama, sementara pada musim panas suhu bisa mencapai 39 derajat Celsius sehingga puasa terasa sangat berat. Selain itu, sebagai minoritas Muslim, suasana Ramadan tidak begitu terasa karena jarang mendengar azan. “Puasa di Jepang itu tantangannya luar biasa. Musim dingin jadwal berbuka sangat lama, musim panas suhunya bisa sampai 39 derajat, dan sebagai minoritas Muslim kita jarang mendengar azan. Tapi justru di situ iman diuji,” ungkap Andini. Ia menambahkan, “Saya selalu meyakini Ramadan itu momentum yang tidak boleh dilewatkan, karena kita tidak pernah tahu apakah tahun depan masih diberi kesempatan berpuasa.”

Di Bandung, Andini juga mengenal tradisi khas masyarakat Sunda menjelang Ramadan, yakni munggahan. Tradisi ini berasal dari kata munggah yang berarti naik tingkat spiritual, menggambarkan upaya meningkatkan kualitas ibadah saat memasuki bulan suci. Munggahan biasanya diisi dengan makan bersama, ceramah, dan saling memaafkan. “Di Sunda ada tradisi munggahan, semacam naik level spiritual. Biasanya makan bersama, ada ceramah, lalu saling bermaafan. Itu sangat hangat dan membantu kami para perantau merasakan suasana Ramadan,” katanya.

Menurutnya, tradisi munggahan memiliki kemiripan makna dengan tradisi Bugis seperti mabaca-baca menjelang Ramadan. Keduanya sama-sama menjadi ruang spiritual untuk berdoa, mempererat kebersamaan, dan membersihkan hati sebelum memasuki bulan suci. “Kalau di Bugis ada mawaca-baca, di Sunda ada munggahan. Maknanya sama, membersihkan hati dan mempererat kebersamaan sebelum Ramadan. Saya merasa tradisi lokal itu memperkaya pengalaman spiritual kami di rantau,” tutup Andini.

Kisah Andini menggambarkan bagaimana para perantau menjalani Ramadan jauh dari kampung halaman, berpisah dari orang tua dan keluarga, namun tetap berusaha bertahan dan menemukan makna melalui tradisi setempat. Ramadan di rantau mungkin penuh tantangan, tetapi semangat ibadah dan rindu kampung halaman tetap menjadi bagian dari perjalanan spiritual setiap perantau.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....