Spirit Ramadan dari Merauke Menggema ke Nasional

  • 02 Mar 2026 06:55 WIB
  •  Bone

RRI.CO.ID, Bone–Safari Ramadan yang digelar di Merauke, Papua Selatan, pada 28 Februari 2026, bukan sekadar agenda seremonial, melainkan momentum penguatan ukhuwah dan spiritualitas umat yang pesannya masih relevan hingga kini. Kegiatan yang berlangsung di Masjid Nurul Mujahidin Pasar Wamanggu itu menghadirkan dai muda LDNU Sulsel sekaligus Wakil Pimpinan Pesantren Al-Ikhlas Ujung Bone, Muhammad Asriady, S.Hd., M.Th.I., CPSM.

Kegiatan yang dilaksanakan oleh panitia Hari Besar Islam Merauke bersama KKSS setempat ini menjadi ruang silaturahmi antara dai dan masyarakat di ujung timur Indonesia. Safari Ramadan tersebut mengusung semangat pembinaan umat di awal Ramadan 1447 Hijriah, dengan menghadirkan tausiyah yang menekankan nilai pendidikan spiritual dan sosial.

Muhammad Asriady menyampaikan bahwa Safari Ramadan bukan hanya perjalanan dakwah biasa, tetapi juga sarana memperkuat persaudaraan lintas daerah. “Merauke memberi pelajaran bahwa Ramadan menyatukan umat tanpa melihat jarak geografis. Ini tentang merawat kebersamaan dan menguatkan nilai ibadah,” ujarnya Saat dimintai keterangan setiba di kabupaten Bone pada, Senin, 2 Maret 2026.

Sementara itu, Said Aqil Siradj dalam tausiyahnya menegaskan bahwa Ramadan adalah momentum jihad, ijtihad, dan mujahadah. Ia membagi fase Ramadan menjadi tiga bagian utama, yakni sepuluh hari pertama sebagai fase berjihad melawan hawa nafsu, sepuluh hari kedua berijtihad mendalami makna ibadah, dan sepuluh hari terakhir bermujahadah untuk mencapai puncak spiritualitas.

Menurutnya, pesan tersebut tetap kontekstual bagi umat Islam di seluruh Indonesia, termasuk di Bone. “Ramadan adalah momentum tarbiyah, pendidikan diri untuk menjadi pribadi yang lebih baik secara utuh,” tegasnya di hadapan jamaah.

Safari Ramadan di Merauke juga menjadi simbol harmonisasi antara dakwah dan budaya lokal. Kehadiran tokoh nasional dan dai daerah menunjukkan bahwa dakwah dapat menjembatani keragaman serta memperkuat nilai kebangsaan dalam bingkai keislaman.

Lebih jauh, Dr. Asriady menambahkan bahwa Ramadan harus dimaknai sebagai upaya mencapai “sehat paripurna”, meliputi kesehatan fisik melalui disiplin ibadah, kesehatan intelektual dengan memperdalam ilmu agama, serta kesehatan emosional dan spiritual. “Ramadhan jangan berhenti pada rutinitas, tapi harus melahirkan perubahan karakter,” katanya.

Dengan demikian, Safari Ramadan Merauke tetap aktual sebagai inspirasi nasional. Spirit yang disampaikan para ulama menjadi pengingat bahwa Ramadan adalah ruang pembinaan diri dan penguatan persatuan umat di seluruh penjuru negeri.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....