Bang Popa, Penjual Siomay dengan Mimpi ke Makkah

  • 01 Jun 2025 16:53 WIB
  •  Bone

KBRN, Bone: Pandemi COVID-19 menjadi titik balik kehidupan Mustofa, sosok yang kini akrab disapa Bang Popa. Dulunya, ia mengandalkan hidup dari berjualan mainan anak-anak dan berburu besi tua. Namun, dua usaha itu tumbang saat pandemi melanda. Sekolah tutup, anak-anak belajar dari rumah, dan harga besi tua jatuh bebas.

“Mainan nggak laku, besi tua juga nggak ada harga. Saya bingung, tapi nggak boleh menyerah,” kenangnya.

Di tengah tekanan hidup, Bang Popa memutuskan banting setir menjadi penjual siomay. Bermodalkan motor tua yang dimodifikasi menjadi gerobak, ia mulai berkeliling dari satu titik ke titik lain. Hari-hari pertama tak mudah. Kadang hanya laku satu atau dua porsi, bahkan pernah hanya bawa pulang Rp5.000 dalam sehari.

Namun semangatnya tak padam. “Kalau ingat anak dan istri di rumah, rasanya nggak bisa nyerah. Harus terus jalan,” ucapnya.

Kini, Bang Popa sudah punya tempat mangkal tetap di Stadion Lapatau, Bone. Pagi hingga menjelang Magrib, ia melayani pelanggan dari kalangan pelajar, mahasiswa, hingga warga umum. Dalam sehari, gerobak motornya bisa menghabiskan 450 sampai 500 porsi siomay.

“Uang dari jualan ini saya pakai untuk hidupkan keluarga, sekolahkan anak, dan alhamdulillah sekarang anak saya sudah kuliah semester empat,” ucapnya bangga.

Bila ada kelebihan rezeki, Bang Popa memilih menabung atau menambah modal. Mimpinya sederhana namun mulia: berangkat ke Makkah bersama keluarga besar. Ia percaya, selama jujur dan tekun bekerja, rezeki akan datang tepat waktu.

“Yang penting kerja sungguh-sungguh, disiplin, jujur. Jangan mudah menyerah. Rejeki itu nggak ke mana dan nggak akan tertukar,” katanya.

Dari balik gerobak motornya, Bang Popa juga menyimpan banyak cerita lucu. “Pernah ada yang lupa bayar siomay, besoknya datang bayar. Paling sering tuh kenalan pas beli siomay, lama-lama jadian. Jadinya saya sebut ini siomay cinta,” tuturnya sambil tertawa.

Ia tak ambil pusing soal pandangan orang sekitar. “Mungkin ada yang suka, ada juga yang nggak suka. Tapi saya jalan terus, alhamdulillah pembeli ramai,” tutup Bang Popa dengan senyum penuh syukur.

Rekomendasi Berita