Tak Sekedar Tradisional, Mudik Siratkan Makna Sosial, Emosional dan Budaya

  • 22 Mar 2025 20:42 WIB
  •  Bone

KBRN, Bone: Tunjangan Hari Raya (THR) bukanlah satu-satunya hal yang sangat dinantikan, mudik juga menjadi bagian yang tak kalah pentingnya dalam momen lebaran. Tak jarang, orang rela merogoh koceknya lebih dalam atau bahkan rela menempuh perjalanan yang jauh hanya untuk pulang ke kampung.

Mudik memang telah lama menjadi tradisi yang mengakar dalam masyarakat Indonesia. Setiap tahunnya orang-orang berbondong-bondong meninggalkan kota menuju kampung halamannya melalui jalur udara, laut dan darat untuk merayakan hari raya.

Pemudik dari Balikpapan, Andi Indra mengaku sebagai seorang perantau, ada beberapa hal yang selalu dirindukan saat mudik, diantaranya, satu, berkumpul dengan orang tua dan keluarga. “Support dari keluarga sangat berpengaruh terhadap kesejahteraan emosional Saya,” ungkap Andi Indra kepada rri.co.id, sabtu (22/3/2025).

Dua, masakan khas kampung halaman juga menjadi daya tarik lain. “Dalam perspektif antropologi, masakan bukan sekadar kebutuhan biologis manusia, tetapi juga membawa nostalgia dan keterikatan budaya. Misalnya: buras, tape, dan nasi likku yang hanya bisa ditemukan dengan cita rasa khas di kampung halaman khususnya masakan orang tua di Bone,” kenangnya.

Tiga, suasana kampung yang autentik. Menurut Indra, dalam beberapa studi menunjukkan bahwa perantau sering merindukan lingkungan asli yang lebih tenang dibandingkan kota besar yang penuh hiruk-pikuk. Hal ini menjadi alasan kuat perantau beristirahat sejenak dari rutinitas yang sangat padat dari dunia kerja.

Pemudik dari Bulukumba, Santi bersyukur tahun ini bisa mudik, lantaran tidak dapat berlebaran selama 3 tahun di tempat kelahirannya. “Tidak bisa ki tiap tahun pulang karena faktor kesibukan, jadi lebaran kali ini tentu jadi lebih berkesan dari tahun lalu,” ungkap karyawan swasta itu.

Sedangkan pemudik dari Makassar, Aldy menuturkan selalu mengusahakan mudik lebaran setiap Idul Fitri, lantaran mendapatkan cuti yang lebih panjang. “Alhamdulillah bisa mudik setiap tahun. Suasana lebaran di kampung itu rasanya jauh lebih menyenangkan karena dikelilingi keluarga, jadi sebisa mungkin berusaha untuk pulang,” ujarnya.

Meskipun biaya dan tenaga yang dikeluarkan tidak sedikit, mudik tetap menjadi tradisi yang berkesan karena sarat dengan makna sosial, emosional, dan budaya. Ini adalah momen di mana seorang perantau bisa kembali merasakan kehangatan keluarga, nilai-nilai adat, serta suasana kampung halaman menjadi hal yang terasa “mewah” dan tidak tergantikan oleh apa pun.

Rekomendasi Berita