Pemkab Bogor Petakan Potensi Bawang Merah dan Putih Berbasis Riset

  • 25 Sep 2026 00:13 WIB
  •  Bogor

RRI.CO.ID, Bogor – Pemerintah Kabupaten Bogor mulai memetakan peluang pengembangan bawang merah dan bawang putih sebagai komoditas pangan di daerah. Langkah tersebut dilakukan dengan melibatkan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) serta mempelajari pengalaman pengembangan bawang dari Kabupaten Majalengka.

Sekretaris Daerah Kabupaten Bogor, Ajat Rochmat Jatnika mengatakan, pengembangan kedua komoditas tersebut perlu diawali dengan kajian untuk memastikan kesesuaian kondisi wilayah. Faktor seperti ketinggian, kondisi tanah, iklim, hingga lokasi lahan menjadi bagian yang akan dipertimbangkan sebelum pengembangan dilakukan lebih luas.

“Bawang putih sebenarnya dapat dibudidayakan di Kabupaten Bogor. Namun, untuk jenis tertentu membutuhkan kondisi khusus, terutama lahan di wilayah pegunungan dengan ketinggian sekitar 800 meter di atas permukaan laut. Sementara bawang merah dapat ditanam di berbagai wilayah,” ujar Ajat, Kamis, 24 September 2026.

Menurut Ajat, Kabupaten Bogor memiliki peluang dari sisi teknologi budidaya, mulai dari pembibitan hingga pemeliharaan tanaman. Namun, potensi tersebut perlu dipastikan melalui penelitian agar lokasi yang dipilih benar-benar mendukung pertumbuhan bawang merah maupun bawang putih.

Saat ini, Pemkab Bogor telah memperoleh informasi awal mengenai sekitar 10 kelompok tani yang mengembangkan bawang dengan luas lahan sekitar 10 hektare. Data tersebut akan menjadi salah satu bahan untuk menyusun pengembangan komoditas secara lebih terarah.

“Ini menjadi langkah awal bahwa kita mulai bergerak ke arah tersebut. Setelah melihat kondisi di lapangan, kami ingin mempelajari praktik yang diterapkan di Majalengka sekaligus memahami pengalaman keberhasilannya,” jelasnya.

Selain aspek produksi, pemerintah daerah melihat peluang pasar yang cukup besar. Jumlah penduduk Kabupaten Bogor yang mencapai sekitar 6,1 juta jiwa menjadi salah satu pertimbangan dalam melihat kebutuhan bawang merah dan bawang putih di wilayah tersebut.

“Dengan jumlah penduduk Kabupaten Bogor yang mencapai sekitar 6,1 juta jiwa, pasarnya sangat besar, bahkan jumlah tersebut melampaui populasi sejumlah provinsi. Kondisi ini menunjukkan potensi pemasaran yang cukup luas, termasuk untuk memenuhi kebutuhan bawang merah dan bawang putih yang diperkirakan tinggi,” katanya.

Pemkab Bogor juga akan mempelajari pola pengembangan yang telah diterapkan Kabupaten Majalengka, tidak hanya dalam hal budidaya. Pengadaan, penyediaan sarana produksi, pengelolaan hasil, hingga kemungkinan pola kerja sama antardaerah menjadi bagian yang akan dikaji.

Ajat mengatakan, pemetaan lokasi juga perlu dilakukan secara menyeluruh, termasuk melihat status lahan yang berpotensi digunakan untuk pengembangan komoditas tersebut. Pemerintah ingin memastikan lahan yang dinilai sesuai memiliki status dan tata kelola yang jelas.

“Kami ingin mendorong produksi bawang merah dan bawang putih di Kabupaten Bogor. Untuk itu, perlu dilakukan kajian mulai dari pembibitan, kondisi iklim dan cuaca, hingga pemetaan lahan yang sesuai. Setelah lokasi yang potensial ditemukan, perlu dipastikan pula status kepemilikannya, apakah merupakan lahan PTPN, Pemda, atau milik masyarakat,” ungkapnya..

Setelah potensi wilayah dan aspek teknis teridentifikasi, Pemkab Bogor akan menentukan bentuk pengembangan dan kerja sama yang dapat dilakukan. Salah satu opsi yang dibuka adalah menjalin kolaborasi dengan Kabupaten Majalengka untuk mengadopsi pengalaman yang dinilai relevan.

“Kalau sudah ditemukan, kami bisa terlebih dahulu menjalin kerja sama dengan Majalengka untuk hal-hal yang memang dapat dikolaborasikan. Intinya, kami ingin mengetahui dan memahami bentuk kerja sama yang bisa dilakukan,” tambah Ajat.

Pengembangan komoditas tersebut melibatkan sejumlah perangkat daerah, termasuk Dinas Ketahanan Pangan, Dinas Pertanian, Bappeda, BPKAD, Bagian Perekonomian, Bagian Kerja Sama, serta perangkat daerah terkait lainnya dan BRIN.

Ajat menekankan, seluruh proses pengembangan harus menggunakan data dan kajian ilmiah sebagai dasar pengambilan kebijakan. Pendekatan tersebut dinilai penting agar program yang disusun dapat diukur dan memiliki dasar yang jelas.

“Kami ingin setiap langkah didasarkan pada kajian ilmiah dan pengetahuan yang jelas. Dengan pendekatan tersebut, pemerintah daerah memiliki dasar yang lebih kuat dalam mengambil keputusan. Ini merupakan langkah awal untuk mendorong berbagai terobosan ke depan,” ungkapnya.

Pemkab Bogor berharap kajian tersebut dapat menghasilkan peta wilayah potensial sekaligus strategi pengembangan bawang merah dan bawang putih yang lebih terarah. Program tersebut nantinya diharapkan tidak hanya meningkatkan produksi pangan lokal, tetapi juga memperkuat ketersediaan komoditas untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....