ISEI XXV di Bogor Dorong Sinergi Pemerintah dan Dunia Usaha
- 29 Agt 2026 02:04 WIB
- Bogor
Poin Utama
- Seminar Nasional ISEI XXV Tahun 2026 di Bogor menjadi momentum Guru Besar Universitas Tazkia sekaligus Pendiri Sakinah Finance, Murniati Mukhlisin, untuk mendorong penguatan ekosistem ekonomi dan keuangan syariah
- Murniati berharap penguatan tata kelola SRIA, penerapan konsep Hexa Helix, dan pemanfaatan teknologi dapat memperluas manfaat ekonomi syariah bagi masyarakat.
RRI.CO.ID, Bogor — Seminar Nasional ISEI XXV Tahun 2026 di Bogor menjadi momentum Guru Besar Universitas Tazkia sekaligus Pendiri Sakinah Finance, Murniati Mukhlisin, untuk mendorong penguatan ekosistem ekonomi dan keuangan syariah. Dalam forum yang berlangsung Kamis, 27 Agustus 2026, Murniati menyampaikan sejumlah gagasan terkait tata kelola, kolaborasi lintas sektor, serta pemanfaatan teknologi digital dan artificial intelligence (AI).
Seminar yang merupakan rangkaian Sidang Pleno ISEI XXV Tahun 2026 tersebut mengangkat tema penguatan sinergi pemerintah, pelaku usaha, dan akademisi dalam mendorong stabilitas ekonomi dinamis, hilirisasi-industrialisasi, serta ekonomi kerakyatan menuju Indonesia maju. Kegiatan tersebut turut dihadiri Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto dan Wakil Menteri Dalam Negeri Bima Arya Sugiarto, bersama akademisi, pelaku usaha, dan pemangku kepentingan ekonomi lainnya.
Dalam diskusi, Murniati menyoroti tiga aspek yang dinilai penting untuk memperkuat ekonomi dan keuangan syariah. Ketiganya meliputi tata kelola Shariah Restricted Investment Account (SRIA), pengembangan ekonomi kerakyatan melalui konsep Hexa Helix, serta optimalisasi digitalisasi dan AI untuk meningkatkan literasi dan inklusi keuangan syariah.
Mengenai SRIA, Murniati menilai diperlukan mekanisme yang dapat memberikan kejelasan mengenai batasan dan tanggung jawab para pihak dalam pengelolaan dana. "Diperlukan restriction matrix untuk memperjelas batasan dan tanggung jawab para pihak, terutama dalam mengantisipasi taqsir, ta’addi, maupun mukhalafah asy-syarth," ujarnya.
Murniati juga mendorong perluasan konsep Triple Helix yang selama ini melibatkan pemerintah, pelaku usaha, dan akademisi dalam pengembangan ekonomi kerakyatan.
“Kita perlu menambahkan Media, Agregator, dan Komunitas atau MAC, sehingga Triple Helix berkembang menjadi Hexa Helix," katanya.
Menurutnya, enam unsur tersebut dapat membangun hubungan yang lebih kuat antara pemerintah, dunia usaha, akademisi, media, agregator, dan komunitas. Pendekatan itu dinilai sejalan dengan pemikiran Prof. Sumitro Djojohadikusumo, Ketua ISEI pertama, yang menekankan pentingnya pertumbuhan, pemerataan, dan stabilitas dalam pembangunan ekonomi.
Pada aspek teknologi, Murniati menyoroti masih adanya kesenjangan antara perkembangan digital dengan tingkat literasi dan inklusi keuangan syariah. Berdasarkan survei tahun ini, tingkat literasi keuangan syariah berada di kisaran 43 persen, sementara tingkat inklusinya sekitar 13 persen.
"Digitalisasi dan AI seharusnya bisa dimanfaatkan untuk memperkuat penyediaan dan penyebaran informasi keuangan syariah, tetapi potensinya belum sepenuhnya berdampak pada peningkatan literasi dan inklusi," ungkapnya.
Ia menilai dibutuhkan ekosistem yang mengintegrasikan teknologi digital dan AI dengan edukasi serta informasi keuangan syariah agar masyarakat semakin mudah memperoleh pengetahuan dan mengakses layanan tersebut.
Murniati berharap penguatan tata kelola SRIA, penerapan konsep Hexa Helix, dan pemanfaatan teknologi dapat memperluas manfaat ekonomi syariah bagi masyarakat. Ketiga pendekatan tersebut dinilai penting untuk membangun ekosistem ekonomi dan keuangan syariah yang lebih inklusif, adaptif, dan berkelanjutan.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....