Politik dan Anak Muda, Saatnya Tak Sekadar Jadi Penonton
- 15 Agt 2026 22:05 WIB
- Bogor
Poin Utama
- Generasi muda didorong untuk tidak hanya menjadi penonton dalam dinamika politik, tetapi berani mengambil peran nyata melalui keterlibatan yang konstruktif dalam kehidupan demokrasi.
- Forum tersebut menjadi ruang untuk mendorong anak muda memahami politik secara lebih kritis sekaligus mengambil bagian dalam proses demokrasi, bukan hanya menyampaikan pendapat melalui media sosial.
RRI.CO.ID, Bogor — Generasi muda didorong untuk tidak hanya menjadi penonton dalam dinamika politik, tetapi berani mengambil peran nyata melalui keterlibatan yang konstruktif dalam kehidupan demokrasi. Hal tersebut mengemuka dalam agenda Ngobras: “Politik dan Anak Muda Siapa Takut??” yang digelar WarkopNa, Bogor, Sabtu 15 Agustus 2026.
Ketua panitia Nofi Fitria Wahyuni, menilai anak muda memiliki ruang besar untuk menentukan arah masa depan bangsa melalui partisipasi politik yang aktif dan bertanggung jawab. “Saat ini generasi muda sudah saatnya berbuat nyata, tidak hanya menjadi penonton atau netizen dengan mengomentari di media sosial, tapi berbuat nyata dalam kancah perpolitikan untuk kebaikan Indonesia,” ujar Nofi.
Anggota DPRD Provinsi Jawa Barat H. J. Ricky Kurniawan, turut menyoroti pentingnya membangun perspektif yang lebih terbuka terhadap politik, termasuk dari kalangan santri. Ia menilai keterlibatan masyarakat dalam politik perlu diarahkan pada upaya memahami persoalan sekaligus mendorong perubahan melalui kebijakan.
“Dari kalangan santri, kita perlu memiliki satu wawasan dalam melihat persoalan politik. Dulu, politik dalam pandangan saya cenderung melupakan masyarakat kecil, sehingga muncul sikap skeptis terhadap politik,” kata Ricky.
Menurut Ricky, pandangan skeptis terhadap politik dapat berubah ketika masyarakat terlibat secara langsung dalam proses pemerintahan dan kebijakan publik.
“Namun, perubahan sebenarnya bisa dilakukan melalui kebijakan dan keterlibatan langsung dengan pemerintahan,” ujarnya.
Sementara itu, Komisioner KPU Kabupaten Bogor, Aprian Wahyudi menekankan bahwa pembahasan partisipasi politik generasi muda harus melihat data secara objektif. Ia menyebut masih terdapat kesenjangan tingkat partisipasi pemilih dalam pemilihan bupati, sementara pada Pemilu sebelumnya terdapat sekitar satu juta pemilih dari segmen Gen Z berusia 17 hingga 25 tahun.
“Dari perspektif KPU, pembahasan mengenai partisipasi politik harus melihat data secara objektif. Tantangannya adalah bagaimana meningkatkan kesadaran politik Gen Z agar tidak hanya hadir sebagai pemilih, tetapi juga aktif dalam kehidupan demokrasi,” ujar Aprian.
Forum tersebut menjadi ruang untuk mendorong anak muda memahami politik secara lebih kritis sekaligus mengambil bagian dalam proses demokrasi, bukan hanya menyampaikan pendapat melalui media sosial.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....