Bukan karena Aphelion, BMKG Ungkap Penyebab Udara Berubah di Bogor
- 29 Jul 2026 07:59 WIB
- Bogor
RRI.CO.ID, Bogor – Fenomena udara dingin yang terjadi di Bogor saat musim kemarau bukan disebabkan oleh jarak bumi dengan matahari atau Aphelion. BMKG menyebut kondisi tersebut terjadi akibat pengaruh angin Monsun Australia serta minimnya tutupan awan yang membuat suhu udara lebih cepat turun.
Forecaster BMKG Jawa Barat, Rossian Nursiddiq Islamiardi, menjelaskan musim kemarau menyebabkan wilayah Indonesia mendapatkan pengaruh massa udara kering dari Australia. Kondisi tersebut membuat jumlah awan berkurang sehingga pelepasan panas dari permukaan bumi ke atmosfer berlangsung lebih cepat.
"Musim kemarau dipengaruhi oleh angin yang berasal dari Australia atau disebut Monsun Australia. Angin tersebut membawa udara kering sehingga kelembapan berkurang dan pembentukan awan menjadi lebih sedikit," ujar Rossian dalam Dialog Astacita Bogor Pagi Ini Pro 1 RRI Bogor edisi Selasa, 28 Juli 2026.
Menurutnya, minimnya tutupan awan menjadi salah satu faktor utama yang membuat udara terasa lebih dingin pada malam hingga dini hari. Saat tidak banyak awan, panas yang dilepaskan bumi tidak tertahan sehingga suhu udara mengalami penurunan.
"Pada musim kemarau tutupan awan sangat minim, sehingga pelepasan gelombang panas dari bumi ke atmosfer menjadi lebih intens. Akibatnya bumi kehilangan panas lebih cepat dan masyarakat merasakan udara yang lebih dingin," katanya.
Rossian mengatakan kondisi serupa juga dapat terjadi pada musim hujan, tetapi dengan penyebab yang berbeda. Pada musim hujan, suhu dingin biasanya dipengaruhi oleh aktivitas awan besar seperti cumulonimbus yang membawa hembusan udara turun.
"Kalau musim hujan suhu dingin bisa terjadi karena hembusan angin dari awan cumulonimbus. Jadi penyebab suhu dingin saat kemarau dan musim hujan memiliki mekanisme yang berbeda," jelasnya.
Ia memastikan fenomena udara dingin yang terjadi saat ini merupakan siklus normal setiap tahun ketika memasuki musim kemarau. Masyarakat tidak perlu mengaitkan kondisi tersebut dengan fenomena lain seperti Aphelion.
"Fenomena ini bukan karena Aphelion atau jarak terjauh bumi dengan matahari. Kondisi ini murni terjadi karena musim kemarau dan minimnya tutupan awan," ungkap Rossian.
BMKG mengingatkan masyarakat tetap melakukan perlindungan diri selama musim kemarau, mulai dari menjaga kesehatan kulit, menggunakan masker, hingga mencukupi kebutuhan cairan tubuh. Kondisi udara yang kering juga membuat masyarakat perlu lebih memperhatikan kualitas udara sekitar.
Tags:
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....