Kebun Kita Hadir Menumbuhkan Kebahagiaan Melalui Semangat Berkebun Bersama

  • 29 Jun 2026 15:25 WIB
  •  Bogor
Poin Utama
  • Program "Kita Berkebun!" lahir dari keresahan warga terhadap semakin sempitnya ruang hijau dan meningkatnya ketergantungan terhadap pasokan pangan dari luar lingkungan
  • Salah satu kendala terbesar adalah menjaga konsistensi partisipasi warga dalam jangka panjang
  • Para narasumber mengajak masyarakat untuk tidak ragu memulai berkebun dari rumah, meskipun hanya menggunakan pot kecil atau lahan yang terbatas

RRI.CO.ID, Bogor- Program Aksi Kita Sapa Bumi yang disiarkan Pro 2 FM RRI Bogor bekerja sama dengan Koalisi Rakyat untuk Kedaulatan Pangan (KRKP), Sabtu 27 Juni 2026, menghadirkan tema "Kebun Kita: Menanam untuk Tertawa dan Bahagia." Dipandu oleh Dely Tambunan bersama Koordinator Nasional KRKP, Said Abdullah, talkshow ini menghadirkan dua narasumber, Sukoco dan Hari Hermawan, penggiat program Kebun Kita di kawasan Laladon, Kabupaten Bogor. Perbincangan tersebut menyoroti bagaimana aktivitas berkebun tidak hanya menghasilkan pangan, tetapi juga membangun kebersamaan, kesehatan mental, serta kemandirian masyarakat di lingkungan perkotaan.

Dalam diskusi dijelaskan bahwa program "Kita Berkebun!" lahir dari keresahan warga terhadap semakin sempitnya ruang hijau dan meningkatnya ketergantungan terhadap pasokan pangan dari luar lingkungan. Berawal dari lahan-lahan kecil yang sebelumnya tidak termanfaatkan, warga Laladon mulai mengubah pekarangan, sudut perumahan, hingga area bersama menjadi kebun produktif. Semangat gotong royong menjadi fondasi utama gerakan ini, di mana masyarakat membangun kemandirian pangan secara bertahap tanpa harus menunggu lahan yang luas. Menurut para narasumber, berkebun menjadi cara sederhana untuk mengembalikan hubungan manusia dengan alam sekaligus mempererat hubungan antarwarga.

Program Kebun Kita juga melibatkan berbagai kelompok masyarakat secara aktif. Ibu rumah tangga berperan dalam pengelolaan tanaman, pengolahan hasil panen, hingga edukasi pemanfaatan pangan sehat bagi keluarga. Sementara itu, anak-anak diajak mengenal proses menanam sejak dini melalui kegiatan belajar di kebun. Mereka dikenalkan pada pentingnya menjaga lingkungan, memahami asal makanan yang dikonsumsi, hingga membangun rasa tanggung jawab terhadap alam. Aktivitas berkebun pun berubah menjadi ruang belajar sekaligus ruang bermain yang menyenangkan bagi seluruh anggota keluarga.

Salah satu konsep utama yang diangkat adalah Integrated Community Food System atau sistem pangan terpadu berbasis masyarakat. Dalam penjelasan yang disampaikan narasumber, konsep ini berarti seluruh proses pangan saling terhubung dalam satu ekosistem. Tidak hanya menanam sayuran, masyarakat juga didorong mengelola sampah organik menjadi kompos, memanfaatkan air secara efisien, mengembangkan budidaya ikan, hingga menerapkan hidroponik sesuai kondisi lingkungan. Dengan sistem tersebut, limbah dapat ditekan, biaya produksi lebih ringan, dan hasil pangan menjadi lebih berkelanjutan.

Meski demikian, membangun urban farming berbasis komunitas tentu memiliki tantangan. Salah satu kendala terbesar adalah menjaga konsistensi partisipasi warga dalam jangka panjang. Selain itu, keterbatasan lahan, perubahan cuaca, hingga kebutuhan pendampingan teknis juga menjadi tantangan yang harus dihadapi bersama. Namun, menurut Sukoco dan Hari Hermawan, keberhasilan program bukan hanya diukur dari banyaknya hasil panen, melainkan dari tumbuhnya kesadaran masyarakat untuk hidup lebih mandiri, saling membantu, dan peduli terhadap lingkungan sekitar.

Di tengah fluktuasi harga pangan yang kerap terjadi, keberadaan program seperti Kebun Kita dinilai semakin relevan. Dengan menghasilkan sebagian kebutuhan sayuran secara mandiri, rumah tangga dapat mengurangi pengeluaran sekaligus memperoleh pangan yang lebih segar dan sehat. Ke depan, program ini ditargetkan terus berkembang melalui penambahan jenis tanaman pangan, pengembangan budidaya ikan dan hidroponik, peningkatan kapasitas pengolahan kompos, serta memperluas jumlah warga yang terlibat agar manfaatnya dapat dirasakan oleh lebih banyak komunitas di berbagai wilayah.

Menutup perbincangan, para narasumber mengajak masyarakat untuk tidak ragu memulai berkebun dari rumah, meskipun hanya menggunakan pot kecil atau lahan yang terbatas. Menanam bukan sekadar menghasilkan bahan pangan, tetapi juga menghadirkan kebahagiaan, mempererat hubungan keluarga, dan membangun kepedulian terhadap lingkungan. Semangat "Menanam untuk Tertawa dan Bahagia" menjadi pesan utama bahwa setiap orang dapat menjadi bagian dari gerakan kemandirian pangan melalui langkah-langkah sederhana yang dimulai dari halaman rumah sendiri.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....