Islam Agama Perubahan, Umat Diajak Siap Menghadapi Dinamika Zaman

  • 26 Jun 2026 14:39 WIB
  •  Bogor

RRI.CO.ID, Bogor – Islam mengajarkan bahwa perubahan merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia. Pesan tersebut disampaikan Prof. Didin S. Buchori dalam Program Mutiara Pagi RRI Berjaringan Korwil XII Bandung, Bogor, dan Cirebon yang disiarkan pada Jumat, 26 Juni 2026, di PRO 1 RRI Bogor. Menurutnya, tidak ada yang bersifat kekal di dunia selain perubahan itu sendiri, sehingga setiap Muslim dituntut mampu beradaptasi tanpa meninggalkan nilai-nilai keimanan.

Prof. Didin menjelaskan, sejarah mencatat bahwa peradaban Islam pernah menjadi pusat kemajuan dunia melalui penguasaan ilmu pengetahuan, teknologi, kedokteran, astronomi, hingga filsafat. Kemajuan tersebut lahir karena Islam menempatkan ilmu sebagai fondasi utama dalam membangun peradaban. "Ilmu adalah komandan, sedangkan akal menjadi alat untuk menjalankannya. Ketika ilmu dijadikan pedoman, perubahan akan membawa kemajuan," ujarnya.

Ia menambahkan, Al-Qur'an telah mengingatkan bahwa seluruh kehidupan di dunia bersifat sementara. Dalam Surah Ar-Rahman ayat 26 disebutkan, 'Kullu man 'alaiha fan' yang berarti "Semua yang ada di bumi itu akan binasa." Ayat tersebut mengajarkan bahwa manusia tidak boleh bergantung pada keadaan yang bersifat sementara, melainkan harus mempersiapkan diri menghadapi setiap perubahan dengan keimanan, ilmu, dan amal saleh.

Dalam kesempatan itu, Prof. Didin juga mengangkat falsafah Sunda "adat kakurung ku iga" sebagai gambaran bahwa manusia sering kali terbelenggu oleh kebiasaan, pola pikir, maupun zona nyaman yang membatasi kemampuan untuk berkembang. Menurutnya, Islam justru mendorong umatnya keluar dari keterbatasan tersebut melalui proses belajar, berpikir kritis, dan terus memperbaiki kualitas diri.

Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa keberhasilan seseorang tidak lahir secara instan. Perubahan membutuhkan proses pembentukan mental yang kuat. "Ada mental proses dan ada mental hasil. Mental proses membentuk karakter yang tangguh melalui kesabaran, disiplin, dan pembelajaran. Sementara mental hasil hanya berorientasi pada pencapaian akhir tanpa menghargai proses yang dijalani," katanya.

Karena itu, umat Islam diharapkan menjadikan setiap perubahan sebagai momentum untuk meningkatkan kualitas diri, bukan sebagai ancaman. Dengan berbekal ilmu pengetahuan, akhlak yang baik, serta kemampuan beradaptasi terhadap perkembangan zaman, umat Islam diyakini mampu kembali menghadirkan kontribusi besar bagi kemajuan peradaban sebagaimana pernah dicapai pada masa keemasan Islam.

Menutup pemaparannya, Prof. Didin mengajak masyarakat menjadikan Islam sebagai agama yang menggerakkan perubahan menuju kehidupan yang lebih baik. Menurutnya, perubahan sejati tidak hanya terlihat dari kemajuan teknologi atau materi, tetapi juga dari meningkatnya kualitas iman, ilmu, dan akhlak dalam kehidupan sehari-hari. Dengan demikian, setiap perubahan dapat menjadi jalan menuju kemaslahatan bagi individu maupun masyarakat luas.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....