Kunci Meraih Surga Bukan Sekadar Ilmu, tetapi Iman, Ibadah, dan Akhlak
- 17 Jul 2026 09:54 WIB
- Bogor
Poin Utama
- Ust. Didin menegaskan surga terbuka bagi setiap Muslim yang beriman, beribadah dengan baik, dan menjaga akhlak mulia, bukan hanya bagi orang alim.
- Ketidaktahuan tentang agama bukan penghalang meraih ampunan Allah selama seseorang mau belajar, bertobat, dan terus memperbaiki diri.
- Sikap alewoh atau semangat belajar agama menjadi bekal penting untuk meningkatkan kualitas iman, ibadah, serta akhlak dalam kehidupan sehari-hari.
RRI.CO.ID, Bogor - Surga sering kali dipersepsikan sebagai tempat yang eksklusif bagi orang-orang dengan tingkat keilmuan agama yang tinggi, ulama besar, atau mereka yang menghabiskan hidup di pesantren. Namun, benarkah anggapan tersebut?
Dalam siaran interaktif "Mutiara Pagi Berjaringan" Pro 1 RRI Bogor edisi Jumat, 17 Juli 2026, Ust. Didin S. Buchori menyampaikan perspektif yang menyejukkan sekaligus memotivasi bagi masyarakat. Dialog yang dipandu host Marissa dan disiarkan berjaringan melalui RRI Bandung 97,6 FM, RRI Cirebon 94,8 FM, serta RRI Bogor 102 FM itu membahas syarat utama meraih surga menurut ajaran Islam.
Menurut Ust. Didin, surga tidak diperuntukkan bagi kalangan tertentu berdasarkan status sosial, tingkat pendidikan, atau gelar keagamaan. Kesempatan untuk meraihnya terbuka bagi siapa saja yang memenuhi syarat-syarat yang telah ditetapkan.
"Yang namanya surga itu bukan milik orang pandai saja, bukan milik orang yang alim saja. Tapi surga itu milik semua yang beriman, yang melakukan ibadah, dan yang berakhlak mulia. Itu syarat utamanya," ujar Ust. Didin saat menjawab pertanyaan salah seorang pendengar setia RRI.
Ia menjelaskan bahwa setiap orang memiliki peluang yang sama untuk menjadi penghuni surga, termasuk mereka yang merasa dirinya awam dalam ilmu agama. Kuncinya adalah menjaga keimanan, menjalankan ibadah dengan konsisten, serta membiasakan akhlak yang baik kepada sesama.
Dalam penjelasannya, Ust. Didin juga mengangkat kearifan lokal budaya Sunda untuk menggambarkan kondisi seseorang yang belum memiliki pengetahuan agama. Menurutnya, ketidaktahuan tersebut dapat dibedakan ke dalam dua kategori yang memiliki makna berbeda.
- Bodoh Katotoloyo
Kategori ini merujuk pada konsep yang pernah disampaikan oleh Imam Ghazali: 'rajulun la yadri, huwa la yadri annahu la yadri'—seseorang yang tidak tahu, dan dia tidak sadar bahwa dirinya tidak tahu.
"Orang yang bodoh katotoloyo ini sudah tidak tahu, tapi malas bertanya, tidak mau mencari ilmu, tidak mau berusaha mendapatkan pengertian. Pekerjaannya hanya diam saja tanpa ada usaha memperbaiki diri (cicing weh pagaweanna)," papar Ust. Didin. Jenis ketidaktahuan inilah yang dinilai berbahaya dan harus dihindari.
- Bodoh Alewoh
Sebaliknya, bodoh alewoh adalah jenis ketidaktahuan yang positif dan sangat dianjurkan. Seseorang menyadari keterbatasan atau ketidaktahuannya, sehingga ia terdorong untuk selalu bertanya dan belajar.
"Dia sadar dirinya bodoh, tapi selalu penasaran ingin tahu. Ingin tahu bagaimana cara salat yang benar, bagaimana berbuat kebaikan, dan bagaimana cara membangun hubungan yang baik dengan sesama manusia. Bodoh yang selalu bertanya untuk kebaikan ini adalah sifat yang sangat bagus," tambahnya.
Penjelasan Ust. Didin mengenai pentingnya menjadi pribadi yang alewoh, yakni aktif belajar dan terus memperbaiki diri, selaras dengan tema utama Mutiara Pagi. Tema yang diangkat adalah "Dosa Besar dan Cara Menghapusnya".
Menurut Ust. Didin, sikap aktif bertanya, bertaubat, serta mempelajari tata cara ibadah yang benar menjadi langkah awal untuk memperbaiki diri di hadapan Allah. Ketidaktahuan di masa lalu bukanlah penghalang untuk meraih ampunan-Nya, selama seseorang mau berproses keluar dari sikap katotoloyo menuju pribadi yang alewoh, sehingga kualitas iman, ibadah, dan akhlaknya terus meningkat.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....