Semangat Kebangkitan Nasional ditengah Persiapan Hari Jadi Bogor ke-544
- 20 Mei 2026 15:43 WIB
- Bogor
RRI.CO.ID, Bogor -Semangat Hari Kebangkitan Nasional (Harkitnas) tidak hanya sekedar ditampilkan pada saat seremoni dan upacara saja. Lebih dari itu semangat kebangkitan nasional juga ditunjukan dengan berbagam inovasi kegiatan yang dilakukan diantaranya adalah bedah buku serta membangun narasi positf untuk perubahan bangsa lebih baik. Seperti yang berlangsung di Perpustakaan Universitas Juanda Bogor, Rabu 20 Mei 2026.
Mengisi hari kebangkitan nasional dengan kegiatan bedah buku berjudul Dibalik Layar Nusantara, langkah kecil ditengah sejarah besar. Sebuah buku karya Dian Rana inipun menjadi salah satu pengingat dan penyemangat lahirnya sebuah bangsa dengan peradaban baru di Ibu Kota Nusantara.
Ditengah gejolak aktivis pemuda itupun, Akademisi Universitas Djuanda Bogor, Ruhimat, M.Ikom mengungkapkan pergerakan pemuda dan mahasiswa menuju kebangkitan masih terus dilakukan hanya saja melalui medium yang berbeda.
"Sekarang semangat pergerakan dibumbui teknologi, kalau dulu frontal langsung turun ke jalan sekarang duduk manis lewat media sosial dengan leadership menggerakan dan mengarahkan melalui jari tangan dan ancaman sejak dulu sudah ada mulai penculikan sekarang juga ada ancaman pakai id anonymus, buzzer bahkan fisik juga,” jelas Ruhimat.
Pergerakan melalui media sosial juga memiliki tantangan yang sama seperti halnya pergerakan fisik di era pembentukan organisasi modern pertama Boedi Oetomo pada 1908 dahulu. Sebuah semangat yang membawa pesan bangkitnya sebuah bangsa baru yang kini bernama Indonesia.
Tenaga Ahli Kantor Staf Presiden RI Prof. Dr. Kun Nurachadijat menilai bahwa moral dan ketauladanan menjadi hal penting. Semangat inilah yang dibawa Bupati Bogor Rudy Susmanto di tengah Hari Jadi Bogor ke 544 ini. Dengan membawa suasana perjuangan Ipik Gandamana Bupati Bogor pertama dalam mempertahankan sejengkal tanah untuk bergabung kepada Republik Indonesia.
"Sebuah kebangkitan nasional dengan nuansa yang heroik terjadi di Malasari itu menjadi semangat menuju kebangkitan nasional, dari sini perayaan ini bisa selebrasi dan juga transfer heroisme dari masa lalu ke masa kini. Dengan meneladani moral Pak Ipik Gandamana tidak korupsi dan nepotisme, kalau sekarang fisik tidak seaniaya jaman dulu tapi mindset ini yang terjajah,” tambah Prof. Kun Nur Achadijat.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....