Puasa 16 Kali Sehari? Ini Aturan Ibadah Astronot di Luar Angkasa
- 23 Feb 2026 13:26 WIB
- Bogor
RRI.CO.ID, Bogor - Astronot yang bertugas di luar angkasa menghadapi tantangan unik saat menjalankan ibadah puasa dan salat. Di orbit Bumi, mereka bisa menyaksikan matahari terbit dan terbenam hingga 16 kali dalam sehari. Kondisi ini membuat penentuan waktu ibadah berbeda dari di Bumi.
Fenomena tersebut terjadi karena Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS) mengorbit Bumi setiap sekitar 90 menit. Dalam 24 jam, awak stasiun mengalami sekitar 16 kali siklus siang dan malam, sebagaimana dijelaskan dalam laporan sains Kompas.com dan Detik yang merujuk data badan antariksa.
Dalam ajaran Islam, waktu puasa ditentukan sejak fajar hingga matahari terbenam. Namun, dengan kondisi 16 kali matahari terbit dan terbenam di ISS, metode tersebut sulit diterapkan secara harfiah. Detik dalam rubrik sainsnya menjelaskan, hal ini menjadi tantangan utama bagi astronot Muslim saat Ramadan.
Sebagai solusi, otoritas keagamaan Malaysia pernah menerbitkan panduan berjudul A Guideline of Performing Ibadah at the ISS pada 2007, saat pengiriman astronot Malaysia ke luar angkasa. Asianews.it melaporkan, panduan tersebut memperbolehkan penentuan waktu salat dan puasa mengikuti waktu lokasi peluncuran atau waktu standar 24 jam seperti UTC.
Dalam fikih Islam, astronot juga dikategorikan sebagai musafir karena melakukan perjalanan jauh. Sejumlah ulama yang dikutip Khaleej Times dan Detik menyebutkan, dengan status itu astronot dapat menjamak dan mengqasar salat, serta diperbolehkan menunda puasa Ramadan untuk diganti setelah kembali ke Bumi.
Contoh terbaru adalah Sultan Al Neyadi, astronot Uni Emirat Arab yang bertugas di ISS saat Ramadan 2023. CNN melaporkan, otoritas keagamaan UEA membolehkan ia memilih tetap berpuasa di orbit atau menggantinya setelah menyelesaikan misi.
Selain puasa, arah kiblat dan gerakan salat juga menjadi perhatian. Harvard Divinity School dalam kajiannya tentang Muslim di luar angkasa menjelaskan, penentuan kiblat dapat dilakukan berdasarkan arah Bumi, sementara gerakan salat disesuaikan dengan kondisi tanpa gravitasi.
Dengan semakin berkembangnya eksplorasi antariksa, pembahasan fikih luar angkasa diperkirakan terus berkembang. Prinsip kemudahan dan tidak memberatkan menjadi dasar utama penyesuaian ibadah, sebagaimana dirangkum dalam berbagai laporan media nasional dan internasional.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....