IOC Tetapkan Aturan Baru, Atlet Transgender Tak Bisa Tampil di Kategori Putri
- 26 Mar 2026 21:45 WIB
- Bogor
RRI.CO.ID, Bogor – Komite Olimpiade Internasional (IOC) resmi menetapkan kebijakan baru terkait kelayakan atlet pada kategori putri (wanita) yang akan mulai berlaku pada Olimpiade Los Angeles 2028 (LA28) dan seterusnya. Kebijakan ini disahkan Dewan Eksekutif IOC dan tidak berlaku surut.
Aturan baru tersebut, seperti dikutip dari laman resmi IOC, menegaskan bahwa kategori putri dalam seluruh cabang olahraga Olimpiade hanya diperuntukkan bagi perempuan biologis. Penentuan kelayakan dilakukan melalui skrining gen SRY, yang dapat dilakukan satu kali seumur hidup menggunakan sampel seperti air liur, usap pipi, atau darah.
IOC menyatakan kebijakan ini disusun berdasarkan kajian ilmiah dan masukan para ahli. Tujuannya adalah untuk menjaga keadilan, keamanan, serta integritas kompetisi di kategori putri dalam olahraga Olimpiade.
Dalam penjelasannya, IOC menilai keberadaan gen SRY menjadi indikator biologis yang konsisten untuk menentukan perkembangan seks laki-laki. Atlet dengan hasil negatif pada tes tersebut dinyatakan memenuhi syarat untuk berlaga di kategori putri.
Sebaliknya, atlet dengan hasil positif gen SRY tidak memenuhi syarat untuk berkompetisi di kategori putri. Namun, mereka tetap dapat berpartisipasi dalam kategori lain yang sesuai, seperti kategori putra atau kategori terbuka.
Kebijakan ini juga memberikan pengecualian terbatas bagi kondisi medis tertentu seperti Complete Androgen Insensitivity Syndrome (CAIS) atau variasi perkembangan seks lainnya, sepanjang tidak memberikan keuntungan performa.
Presiden IOC, Kirsty Coventry, menyatakan kebijakan ini bertujuan memastikan kompetisi yang adil bagi seluruh atlet. Ia menegaskan bahwa dalam olahraga elit, perbedaan kecil dapat menentukan hasil, sehingga aspek keadilan menjadi hal yang sangat penting.
Kebijakan ini merupakan hasil proses kajian yang berlangsung sejak 2024 hingga awal 2026, melibatkan pakar di bidang sains olahraga, kedokteran, etika, serta hukum. Selain itu, IOC juga melakukan survei terhadap lebih dari 1.100 atlet serta wawancara dengan atlet yang terdampak.
IOC menegaskan bahwa penerapan aturan ini tetap mengedepankan pendekatan yang berpusat pada atlet, termasuk perlindungan terhadap privasi, kesehatan, dan martabat individu. Federasi olahraga internasional dan komite nasional akan berperan dalam sosialisasi serta implementasi kebijakan tersebut.
Dengan kebijakan ini, IOC berharap dapat memastikan keseimbangan antara keadilan kompetisi dan inklusivitas dalam olahraga internasional, khususnya pada ajang Olimpiade mendatang.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....