Dari Aroma ke Interaksi: Petai dalam Budaya Makan
- 23 Apr 2026 09:37 WIB
- Bogor
RRI.CO.ID, Bogor - Ada satu momen yang hampir semua orang Indonesia pernah alami: duduk di meja makan, lalu seseorang mengonsumsi petai. Dalam hitungan detik, suasana berubah. Ada yang langsung antusias, ada yang menahan napas, ada juga yang pura-pura sibuk.
Petai, atau bitter bean, punya cara unik untuk mengubah dinamika sosial. Fokusnya bukan pada gizi, melainkan efeknya pada interaksi antarorang.
Tidak banyak bahan makanan yang bisa langsung memicu reaksi spontan. Petai termasuk salah satunya. Aromanya sering jadi bahan candaan, bahkan sebelum disantap. Di kantor, warung makan, sampai acara keluarga, kehadiran petai kerap mencairkan suasana yang kaku.
| Baca juga: 5 Olahan Daging Kurban Favorit saat Iduladha |
Dilansir brianwansink.com, dalam studi tentang perilaku makan, makanan dengan karakter kuat, baik rasa maupun aroma, cenderung memicu respons emosional dan percakapan lebih intens (Wansink, Mindless Eating, 2006). Petai jelas masuk kategori ini.
Negosiasi Sosial di Balik Satu Piring
Makan petai sering melibatkan kompromi. Ada yang memilih makan diam-diam, ada yang santai saja, ada juga yang menahan diri demi orang lain. Dari situ muncul semacam “aturan tidak tertulis”.
Fenomena ini berkaitan ketika makanan dengan karakter kuat disajikan dalam lingkungan sosial (bersama teman atau keluarga), hal tersebut sering menjadi topik perbincangan, memicu suasana yang lebih santai, dan mempererat ikatan sosial (fungsi social bonding), yang pada akhirnya membuat percakapan menjadi lebih intens.
Uji Nyali untuk Para Warga Asing
Menariknya, petai juga sering “dipamerkan” kepada orang asing sebagai bagian dari pengalaman kuliner Indonesia. Sama seperti Durian, petai kerap dijadikan semacam uji reaksi. Di berbagai konten "Mukbang" misalnya, terlihat respons yang beragam. Ada yang santai saja dan menganggap rasanya unik, ada juga yang cukup terganggu dengan aromanya yang tajam. Reaksi spontan, mulai dari penasaran, tertawa, sampai kaget, justru menjadi daya tarik utama.
Fenomena ini memperlihatkan bagaimana makanan lokal bisa menjadi “jembatan budaya”, bukan soal cocok atau tidak di lidah, melainkan tentang menghadirkan pengalaman baru yang mungkin tidak mereka temukan di negara asalnya. Dalam konteks ini, petai hadir sebagai perwakilan rasa yang khas sekaligus pintu masuk untuk memahami budaya makan di Indonesia.
Sejalan dengan itu, Food and Agriculture Organization (FAO), yang dilansir dari fao.org, menyebutkan bahwa bahan pangan lokal memiliki peran penting dalam menjaga keberagaman kuliner sekaligus memperkuat identitas budaya. Petai menjadi salah satu contoh nyata bagaimana sebuah bahan sederhana dapat membawa cerita, kebiasaan, dan cara hidup yang berbeda kepada siapa pun yang mencobanya.
Petai mungkin tidak selalu disukai, tapi hampir selalu meninggalkan kesan. Ia memancing reaksi, membuka percakapan, dan kadang menciptakan momen tak terlupakan, baik bagi yang sudah terbiasa maupun yang baru pertama mencoba. Di meja makan, kehadirannya jarang berjalan biasa saja.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....