Gangguan Tiroid Sering Tak Disadari, Kenali Tanda Awalnya

  • 08 Sep 2026 20:15 WIB
  •  Bogor

RRI.CO.ID, Bogor - Gangguan tiroid menjadi salah satu masalah kesehatna yang kerap tidak disadari karena gejalanya sering menyerupai kondisi sehari-hari, seperti kelelahan, stres, atau perubahan suasana hati. Padahal, gangguan pada kelenjar kecil berbentuk seperti kupu-kupu di leher ini dapat memengaruhi hampir seluruh fungsi tubuh.

Tiroid berada di bagian depan leher, tepat di bawah jakun, dan berperan menghasilkan hormon yang mengatur penggunaan energi oleh sel-sel tubuh. Hormon tiroid turut memengaruhi metabolisme, suhu tubuh, detak jantung, fungsi otak, pencernaan, hingga kekuatan otot.

Ketika tiroid menghasilkan hormon secara berlebihan, seseorang dapat mengalami hipertiroidisme yang membuat berbagai fungsi tubuh bekerja terlalu cepat. Sebaliknya, produksi hormon yang terlalu sedikit menyebabkan hipotiroidisme, yang dapat membuat tubuh terasa lebih lamban dan memicu kelelahan berkepanjangan.

Dilansir dari website www.nationalgeographic.com bahwa Gejala gangguan tiroid dapat muncul secara perlahan sehingga sering dianggap sebagai bagian dari kesibukan atau proses penuaan. Gangguan tidur, rasa cemas atau mudah tersinggung, tangan gemetar, jantung berdebar, perubahan berat badan, serta kepekaan yang berlebihan terhadap panas atau dingin merupakan beberapa tanda yang patut diperhatikan.

Pada sebagian orang, gejala yang muncul justru lebih samar, seperti sulit berkonsentrasi, mudah lelah, kelemahan otot, sering berkeringat, atau lebih sering buang air kecil. Pembengkakan di bagian leher serta perubahan pada mata, seperti mata tampak menonjol, bengkak, atau penglihatan menjadi kabur, juga dapat berkaitan dengan gangguan tertentu pada tiroid.

Gangguan tiroid tidak hanya berdampak pada kondisi fisik, tetapi juga dapat memengaruhi kesehatan jantung, tulang, suasana hati, dan fungsi kognitif. Jika berlangsung lama tanpa penanganan, gangguan tersebut dapat meningkatkan risiko gangguan irama jantung, pengeroposan tulang, patah tulang, hingga masalah pada fungsi otak.

Sejumlah penelitian juga menemukan hubungan antara gangguan tiroid tertentu dan peningkatan risiko penurunan fungsi kognitif, termasuk demensia. Perubahan kadar hormon yang berlangsung dalam jangka panjang diduga dapat memengaruhi pembuluh darah otak, hubungan antarsel saraf, serta proses biologis lain yang berperan dalam kesehatan otak.

Gangguan tiroid sebenarnya dapat ditangani apabila diketahui sejak dini, dengan pilihan terapi yang disesuaikan dengan penyebab dan tingkat keparahannya. Pengobatan dapat berupa obat-obatan, terapi radioiodin, atau tindakan pembedahan pada kondisi tertentu.

Pemeriksaan menjadi penting karena tidak semua penderita mengalami gejala yang jelas, bahkan sebagian orang dapat mengalami gangguan tiroid tanpa keluhan berarti. Pemeriksaan fungsi tiroid umumnya dapat diawali dengan tes darah, sementara dokter dapat merekomendasikan pemeriksaan pencitraan apabila diperlukan untuk melihat kondisi kelenjar secara lebih mendalam.

Masyarakat sebaiknya tidak mengabaikan perubahan tubuh yang berlangsung terus-menerus, terutama jika beberapa gejala muncul secara bersamaan tanpa penyebab yang jelas. Berkonsultasi dengan tenaga kesehatan dan melakukan pemeriksaan yang sesuai dapat membantu memastikan apakah keluhan tersebut berkaitan dengan tiroid atau justru disebabkan kondisi lain.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....